Ada satu jenis kelelahan yang tidak hilang meski sudah cuti panjang atau libur akhir pekan. Kelelahan itu muncul bukan karena jam kerja yang panjang saja, tapi karena terus-menerus berada di dekat rasa sakit, ketakutan, dan kematian orang lain. Di rumah sakit, puskesmas, dan klinik, kondisi ini punya nama: compassion fatigue. Istilahnya belum sepopuler burnout, tapi dampaknya ke perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lain di Indonesia jauh lebih dekat dengan keseharian kerja mereka daripada yang disadari kebanyakan manajemen faskes.
Istilah compassion fatigue pertama kali dirumuskan secara klinis oleh Charles Figley lewat bukunya Compassion Fatigue: Coping with Secondary Traumatic Stress Disorder (1995). Figley menjelaskan kondisi ini sebagai bentuk kelelahan emosional dan fisik yang muncul dari paparan berulang terhadap penderitaan orang lain, khususnya pada profesi yang pekerjaannya memang menuntut empati aktif: perawat, bidan, pekerja sosial, konselor, hingga petugas gawat darurat. Bedanya dengan burnout biasa cukup jelas begitu dijabarkan satu per satu, dan justru di titik itu banyak manajemen rumah sakit salah membaca gejalanya sebagai “kurang motivasi kerja” atau “perlu training ulang”.
Burnout, secara umum, lahir dari akumulasi stres kerja jangka panjang: beban administratif, jam kerja berlebihan, kurangnya kontrol atas pekerjaan, atau sistem yang tidak mendukung. Gejalanya berkembang perlahan, biasanya dalam hitungan bulan sampai tahun, dan cenderung bisa diprediksi kalau beban kerja terus menumpuk tanpa jeda.
Compassion fatigue jalurnya berbeda. Peneliti kesejahteraan profesional Beth Hudnall Stamm, lewat kerangka Professional Quality of Life (ProQoL) yang ia kembangkan, memetakan tiga komponen yang saling berkaitan pada pekerja yang tugasnya merawat orang lain: compassion satisfaction (kepuasan karena bisa membantu), burnout, dan secondary traumatic stress atau stres traumatik sekunder. Secondary traumatic stress inilah yang jadi inti compassion fatigue, muncul jauh lebih cepat daripada burnout, kadang hanya dalam hitungan minggu setelah terpapar kasus yang berat secara emosional, seperti kematian pasien anak, kegagalan resusitasi, atau kekerasan pada pasien yang dirawat.
Bidan yang mendampingi ibu kehilangan bayinya, perawat ICU yang berulang kali melihat pasien meninggal dalam kondisi yang sama, atau tenaga kesehatan jiwa yang setiap hari mendengar cerita trauma pasiennya, semua punya pola paparan yang berbeda dari pekerja kantoran yang lelah karena deadline. Rasa lelahnya juga bukan cuma soal fisik. Ada rasa “terkuras” secara emosional karena harus terus berempati pada penderitaan yang datang silih berganti.
Pekerjaan merawat pada dasarnya menuntut kedekatan emosional. Perawat dilatih untuk berempati, mendengarkan keluhan, menenangkan keluarga pasien, dan hadir penuh saat momen paling rentan dalam hidup seseorang. Justru kualitas itulah yang membuat mereka rentan terhadap compassion fatigue, karena empati yang terus dipakai tanpa jeda pemulihan lama-lama menipiskan kapasitas emosional itu sendiri.
Penelitian Amelia, Iswantoro, dan Chrisnawati (2018) yang dipublikasikan di Jurnal Keperawatan Suaka Insan, dilakukan terhadap 80 perawat jiwa di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Kabupaten Banjar, menemukan bahwa faktor usia, status pernikahan, stres kerja, dan tingkat empati perawat berhubungan signifikan dengan tingkat compassion fatigue yang dialami. Artinya bukan cuma soal berapa lama seseorang bekerja, tapi juga sejauh mana kapasitas empatinya terus-menerus ditarik tanpa ruang untuk pulih.
Bidan dan perawat maternitas menghadapi versi lain dari risiko ini. Mereka merayakan kelahiran hampir setiap hari, tapi sesekali juga harus menghadapi kehilangan, komplikasi berat, atau kegagalan persalinan. Pergantian emosi yang cepat antara suka dan duka dalam satu shift kerja itu sendiri sudah jadi beban tersendiri yang jarang diakui secara terbuka di lingkungan kerja faskes.
Tenaga kesehatan di unit gawat darurat, ICU, onkologi, dan psikiatri biasanya paling sering disebut dalam literatur sebagai kelompok berisiko tinggi, karena kepadatan kasus berat dan kematian yang mereka hadapi jauh lebih tinggi dibanding unit rawat jalan biasa. Tapi ini bukan berarti unit lain aman. Perawat di puskesmas dengan beban kasus tinggi dan sumber daya terbatas, atau tenaga kesehatan yang menangani pasien kronis dalam waktu lama, juga membangun keterikatan emosional yang bisa berujung pada kelelahan serupa.
Compassion fatigue jarang muncul sebagai satu gejala tunggal yang mudah dikenali. Lebih sering ia menyusup pelan-pelan lewat perubahan kecil yang, kalau dilihat sendiri-sendiri, terasa wajar untuk siapa pun yang bekerja di lingkungan penuh tekanan. Beberapa pola yang perlu diperhatikan HR dan manajemen faskes:
Karena gejala-gejala ini gampang disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau bahkan sikap kerja yang kurang profesional, banyak faskes baru menyadarinya setelah terjadi insiden yang lebih serius: kesalahan medis, konflik dengan pasien, atau resign mendadak dari staf yang selama ini dianggap berkinerja baik.
Sistem shift di rumah sakit dan klinik Indonesia punya karakteristik yang memperberat risiko compassion fatigue dibanding pekerjaan kantoran biasa. Shift malam yang berulang mengganggu ritme sirkadian, dan penelitian tidur secara umum sudah lama menunjukkan bahwa gangguan tidur kronis menurunkan kapasitas regulasi emosi seseorang. Kalau kapasitas regulasi emosi menurun di saat yang sama pekerjaan menuntut empati tinggi, jaraknya ke compassion fatigue jadi lebih pendek.
Rasio perawat terhadap pasien di banyak faskes Indonesia, terutama di luar rumah sakit besar kota, masih jauh dari ideal. Satu perawat sering harus menangani jumlah pasien yang melampaui kapasitas perhatian yang sehat, sehingga waktu untuk benar-benar hadir secara emosional pada tiap pasien makin sempit, padahal justru kehadiran itulah yang membuat perawatan terasa manusiawi bagi pasien.
Data yang paling menegaskan besarnya masalah ini datang dari penelitian Sulistyo, Simanjuntak, Juniarta, dan Kasenda (2022) yang dipublikasikan di jurnal Nursing Current: Jurnal Keperawatan. Studi terhadap 320 perawat di Kabupaten Tangerang selama masa pandemi COVID-19 menemukan bahwa 70,9% perawat mengalami compassion fatigue pada kategori tinggi, dengan 91,9% mengalami burnout kategori sedang dan 86,3% mengalami secondary traumatic stress kategori sedang. Angka-angka ini diambil di masa krisis kesehatan yang ekstrem, tapi pola dasarnya, beban kasus tinggi dan tekanan emosional yang terus-menerus, tetap relevan di kondisi kerja faskes yang normal sekalipun, hanya dengan intensitas yang berbeda.
Konteks global juga menunjukkan pola serupa. Dalam laporan Recover to Rebuild (2023), International Council of Nurses (ICN) mengutip perkiraan gabungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa tingkat burnout di kalangan tenaga kesehatan berkisar antara 41 sampai 52 persen di berbagai negara, dan sebuah meta-analisis terhadap 23 studi yang dikutip dalam laporan yang sama menemukan 22% perawat mengalami gejala depresi serta 29% mengalami gejala kecemasan selama 11 bulan pertama pandemi. Meski angka-angka ini datang dari luar Indonesia, arah temuannya sejalan dengan apa yang ditemukan di Tangerang: tenaga kesehatan yang menghadapi beban kasus tinggi secara konsisten, entah karena krisis kesehatan atau karena kekurangan staf struktural, berada dalam risiko yang jauh lebih tinggi dari rata-rata pekerja kantoran.
Compassion fatigue yang dibiarkan bukan cuma soal kesejahteraan personal tenaga kesehatan, tapi berimbas langsung ke mutu layanan yang diterima pasien. Perawat yang mengalami kelelahan emosional cenderung lebih rentan melakukan kesalahan kecil yang terakumulasi, mulai dari lupa detail instruksi, kurang teliti dalam observasi tanda vital, sampai respons yang lebih lambat terhadap perubahan kondisi pasien. Empati yang menipis juga membuat komunikasi dengan pasien dan keluarga terasa lebih kaku, yang pada akhirnya menurunkan kepercayaan pasien terhadap layanan faskes secara keseluruhan.
Ada juga konsekuensi organisasi yang lebih terasa di level manajemen: turnover staf yang tinggi, absensi mendadak, dan biaya rekrutmen ulang yang terus berulang karena tenaga kesehatan berpengalaman memilih keluar dari profesi atau pindah ke fasilitas lain yang dianggap lebih ringan bebannya. Kehilangan perawat senior yang sudah terlatih jauh lebih mahal, baik dari sisi biaya maupun waktu, dibanding investasi mencegah compassion fatigue sejak awal. Efek berantai antar staf sering luput dari perhatian manajemen. Perawat yang mengalami compassion fatigue cenderung menarik diri dari tim, mengurangi kolaborasi, dan kadang memicu ketegangan dengan rekan kerja karena kesabarannya menipis. Dalam lingkungan kerja shift yang sangat bergantung pada kerja sama tim, satu orang yang kelelahan emosional bisa memengaruhi dinamika seluruh unit.
Langkah pertama yang paling realistis adalah mengakui bahwa compassion fatigue itu nyata dan berbeda dari sekadar “kurang semangat kerja”. Pengakuan ini penting karena banyak tenaga kesehatan sendiri enggan bicara soal kelelahan emosionalnya, khawatir dianggap tidak profesional atau tidak cocok dengan profesi merawat. Penjadwalan shift yang lebih manusiawi jadi salah satu intervensi paling konkret yang bisa dilakukan HR faskes. Ini termasuk membatasi shift malam berturut-turut, memberi jeda yang cukup antar shift untuk pemulihan tidur, dan menghindari rotasi kasus berat yang terus-menerus dibebankan ke perawat yang sama tanpa jeda ke unit yang lebih ringan.
Ruang dan waktu untuk debriefing setelah kasus berat juga penting, meski sering dianggap tidak esensial di tengah tekanan operasional. Sesi singkat setelah kehilangan pasien atau kasus traumatik, di mana tim bisa memproses apa yang baru saja terjadi bersama, memberi ruang untuk emosi yang biasanya ditahan supaya bisa lanjut kerja shift berikutnya. Pelatihan bagi supervisor dan kepala ruangan untuk mengenali tanda-tanda awal compassion fatigue pada stafnya, bukan cuma menilai kinerja dari sisi kompetensi klinis, juga jadi lapisan deteksi dini yang murah tapi sering terlewat. Supervisor yang tahu bedanya compassion fatigue dan sekadar malas kerja akan merespons dengan cara yang jauh lebih tepat, dukungan daripada teguran.
Program kesejahteraan yang cuma muncul saat ada krisis, seperti webinar motivasi setelah gelombang pasien tinggi, biasanya tidak cukup untuk menangani akar masalah compassion fatigue. Yang dibutuhkan tenaga kesehatan adalah akses berkelanjutan ke dukungan psikologis, di mana mereka bisa bicara soal beban emosional pekerjaannya tanpa harus menunggu sampai kondisinya parah.
Dari observasi platform kami di Riliv, pola tematik dari sesi konseling dan skrining kesejahteraan karyawan di organisasi dengan tenaga frontline dan beban kerja tinggi menunjukkan kecenderungan serupa: karyawan yang pekerjaannya menuntut kontak emosional terus-menerus dengan penderitaan orang lain, entah di sektor kesehatan atau layanan sosial lainnya, lebih sering menunjukkan pola kelelahan emosional yang datang lebih cepat dibanding kelelahan kerja pada umumnya. Pola ini konsisten dengan apa yang dijelaskan dalam literatur akademik soal compassion fatigue, dan memperkuat pentingnya akses dukungan yang mudah dijangkau, bukan cuma tersedia di atas kertas kebijakan.
Faskes yang serius menangani ini biasanya menyediakan jalur konseling yang bisa diakses tanpa proses administratif berlapis, karena tenaga kesehatan yang sudah kelelahan cenderung enggan menambah beban dengan prosedur yang rumit. Kerahasiaan juga jadi faktor penentu, sebab banyak perawat khawatir mencari bantuan psikologis akan dianggap sebagai tanda ketidakmampuan di lingkungan kerja yang masih kental budaya “harus kuat”.
Apa perbedaan utama antara compassion fatigue dan burnout? Burnout biasanya muncul perlahan dari akumulasi beban kerja, sistem yang tidak mendukung, atau kelelahan administratif jangka panjang. Compassion fatigue muncul lebih cepat dan spesifik dari paparan berulang terhadap penderitaan orang lain, terutama pada profesi yang menuntut empati aktif seperti perawat dan bidan.
Apakah compassion fatigue hanya dialami perawat di unit intensif atau gawat darurat? Tidak selalu. Unit dengan kasus berat seperti ICU, onkologi, dan psikiatri memang lebih sering disorot dalam penelitian, tapi perawat di puskesmas dengan beban kasus tinggi atau tenaga kesehatan yang menangani pasien kronis dalam waktu lama juga berisiko mengalaminya.
Bagaimana HR rumah sakit bisa mendeteksi compassion fatigue pada stafnya lebih awal? Perhatikan perubahan pola perilaku, bukan cuma kinerja klinis: sikap yang tiba-tiba lebih datar ke pasien, keluhan gangguan tidur, penarikan diri dari tim, atau penurunan rasa percaya diri terhadap kemampuan merawat. Pelatihan bagi supervisor untuk mengenali pola ini jauh lebih efektif daripada menunggu insiden serius terjadi.
Apakah menambah insentif finansial cukup untuk mencegah compassion fatigue? Insentif finansial membantu tapi tidak menyentuh akar masalahnya. Compassion fatigue lahir dari beban emosional, bukan cuma beban kerja fisik atau finansial, sehingga intervensinya perlu menyentuh sisi psikologis: penjadwalan yang manusiawi, ruang debriefing, dan akses dukungan psikologis yang berkelanjutan.
Apakah compassion fatigue bisa dicegah sepenuhnya? Sulit dihilangkan sepenuhnya selama pekerjaan tetap menuntut empati terhadap penderitaan orang lain, tapi dampaknya bisa ditekan lewat kombinasi sistem kerja yang lebih sehat, budaya organisasi yang terbuka membahas kelelahan emosional, dan akses konseling yang mudah dijangkau tenaga kesehatan.
Menangani compassion fatigue di lingkungan faskes adalah proses berkelanjutan, bagian dari bagaimana rumah sakit atau klinik merawat orang-orang yang setiap hari merawat orang lain. Kalau faskes tempat kamu bekerja sedang memikirkan cara membangun dukungan psikologis yang lebih terstruktur untuk tenaga kesehatannya, mengenal bagaimana program EAP bekerja bisa jadi langkah awal yang masuk akal. Riliv punya gambaran lebih lanjut soal bagaimana pendekatan itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan tim kesehatan.

52% karyawan melaporkan mengalami burnout kronis. Tapi tanda-tandanya di level organisasi sering terlewat oleh HR. Artikel ini mengulas 7 sinyal yang perlu kamu perhatikan sebelum terlambat.

Kehilangan satu karyawan bisa menelan biaya setara 6-9 bulan gajinya. Artikel ini membahas 6 strategi berbasis data untuk menekan turnover, termasuk peran penting kesehatan mental dan EAP.

ESOP dijanjikan sebagai insentif masa depan, tapi buat banyak karyawan startup, opsi saham ini justru jadi sumber cemas baru. Ini alasannya dan peran HR di dalamnya.

Teknisi lapangan menanggung target SLA, mobilitas tinggi, dan komplain pelanggan tanpa banyak dukungan dari tim kantor. Ini dampaknya dan yang bisa dilakukan HR.