Ada momen yang cukup umum terjadi di banyak perusahaan setahun setelah meluncurkan program EAP: HR diminta melaporkan hasilnya ke direksi, dan angka yang keluar terlihat kecil. Dari ratusan karyawan yang terdaftar, mungkin hanya belasan yang benar-benar memakai layanan konseling. Muncul pertanyaan yang menyakitkan tapi wajar: apakah program ini gagal, atau HR yang salah membaca angkanya?
Jawabannya seringkali keduanya benar. Utilization rate memang salah satu metrik paling penting untuk mengevaluasi program EAP, tapi cara menghitung dan membaca angka ini jauh lebih rumit dari sekadar “berapa persen yang pakai.”
Secara teknis, utilization rate EAP dihitung dengan membagi jumlah karyawan unik yang menggunakan layanan EAP dengan total karyawan yang eligible mengakses program tersebut, dikali seratus persen. Rumusnya sederhana:
Utilization Rate = (Jumlah karyawan unik yang memakai layanan ÷ Total karyawan yang eligible) × 100%
Kata “unik” di rumus ini sering terlewat padahal krusial. Kalau satu karyawan memakai layanan konseling lima kali dalam setahun, itu tetap dihitung sebagai satu orang, bukan lima. Ini penting karena beberapa laporan vendor EAP kadang mencampur “jumlah sesi” dengan “jumlah karyawan yang memakai,” dan dua angka ini bisa memberi gambaran yang sangat berbeda soal seberapa luas program benar-benar menjangkau organisasi.
Ada juga variasi periode pengukuran. Sebagian perusahaan menghitung utilization rate tahunan (berapa persen karyawan yang memakai layanan sepanjang setahun), sementara yang lain menghitung bulanan atau per kuartal untuk melihat tren. Riset terhadap 154 EAP di Kanada bahkan menemukan setidaknya 19 metode berbeda yang dipakai berbagai organisasi untuk menghitung angka penggunaan EAP mereka, meski asosiasi profesi EAP sendiri sudah merekomendasikan satu standar statistik yang seharusnya dipakai secara konsisten. Artinya, kalau HR membandingkan utilization rate perusahaan sendiri dengan angka yang didengar dari perusahaan lain, perlu dipastikan dulu keduanya dihitung dengan metode yang sama, karena kalau tidak, perbandingan itu tidak benar-benar apple-to-apple.
Ini bagian yang sering membuat HR panik tanpa alasan yang tepat. Kalau melihat benchmark internasional, angka utilization rate EAP tradisional ternyata memang rendah secara struktural, bukan cuma di perusahaan tertentu saja. Data industri EAP secara umum relatif stagnan selama bertahun-tahun: sebagian besar EAP tradisional melaporkan tingkat keterlibatan antara 3 sampai 8 persen dari total populasi karyawan yang eligible, dengan median di kisaran 5 persen. Angka 5 persen ini bukan kegagalan satu perusahaan, tapi rata-rata umum untuk EAP tradisional di berbagai negara termasuk Australia, Inggris, dan Amerika Serikat yang cenderung berkisar di angka serupa.
Studi lain memberikan rentang yang sedikit lebih luas. Berdasarkan riset SHRM 2024, sekitar 82 persen perusahaan di Amerika Serikat sudah menawarkan EAP, tapi utilization aktif tahunan konsisten berada di kisaran 10 sampai 20 persen dari karyawan yang tercover, artinya mayoritas karyawan yang perusahaannya membayar akses EAP tidak pernah benar-benar memakainya.
Jadi kalau utilization rate program EAP di perusahaan berada di kisaran 5 sampai 10 persen, itu sebenarnya cukup sejalan dengan rata-rata industri EAP tradisional secara global, bukan tanda program gagal total. Tapi ini juga bukan alasan untuk berhenti berusaha meningkatkannya, karena angka “normal” ini sendiri sebenarnya menunjukkan masalah struktural yang lebih besar di industri EAP secara keseluruhan.
Perbedaan cara hitung ini juga penting saat HR mengevaluasi tawaran dari beberapa vendor EAP sekaligus. Vendor A yang melaporkan utilization 18 persen belum tentu benar-benar mengungguli vendor B yang melaporkan 9 persen, kalau ternyata vendor A menghitung “pernah membuka aplikasi sekali” sebagai pengguna aktif, sementara vendor B hanya menghitung karyawan yang benar-benar menyelesaikan sesi konseling penuh. HR yang teliti biasanya meminta definisi persis di balik setiap angka sebelum membandingkan proposal, bukan cuma melihat persentase akhirnya saja.
Ada dua cara membaca angka utilization rate yang rendah, dan HR perlu keduanya secara bersamaan, bukan pilih salah satu.
Cara pertama: angka rendah tidak otomatis berarti karyawan tidak butuh bantuan. Kesehatan mental adalah topik yang masih dibungkus stigma di banyak tempat kerja, dan sebagian karyawan yang sebenarnya butuh dukungan tetap tidak akan mendaftar meski programnya gratis dan mudah diakses. Rendahnya angka penggunaan sering mencerminkan barrier psikologis dan sosial, bukan berarti kebutuhannya memang kecil.
Cara kedua: dan ini yang sering diabaikan: angka di bawah 8 persen sebenarnya sudah di bawah rata-rata industri, dan di bawah 5 persen menunjukkan indikasi kegagalan struktural program, bukan sekadar variasi normal. Kalau HR terus-menerus menerima angka rendah sebagai “ya memang begitu adanya industri EAP,” ini justru menutup peluang untuk benar-benar memperbaiki desain programnya.
Poin pentingnya: rendahnya utilization rate perlu jadi sinyal untuk mendiagnosis penyebabnya, bukan alasan untuk membenarkan status quo atau alasan untuk langsung menyerah dan bilang programnya tidak berguna.
Sebelum memutuskan mengganti vendor atau menambah budget, ada beberapa hal yang perlu dicek dulu.
Cek dulu apakah karyawan tahu programnya ada. Ini kelihatan terlalu mendasar untuk disebut, tapi kenyataannya banyak program EAP gagal bukan karena kualitas layanannya buruk, tapi karena sebagian besar karyawan bahkan tidak tahu program ini tersedia. Salah satu cara mengeceknya adalah lewat survei anonim singkat yang menanyakan apakah karyawan tahu perusahaan menyediakan EAP, dan seberapa jelas mereka soal cara mengaksesnya.
Pecah data utilization per kategori layanan. Kalau vendor EAP menyediakan laporan yang cukup rinci, HR bisa melihat layanan mana yang paling dan paling sedikit dipakai, misalnya konseling klinis dibanding konsultasi finansial atau hukum. Pola ini bisa memberi petunjuk soal isu apa yang sebenarnya paling relevan dengan karyawan, dan apakah komunikasi program selama ini sudah menonjolkan layanan yang tepat.
Perhatikan pola sesi tunggal. Kalau kebanyakan karyawan yang mencoba layanan konseling berhenti setelah satu sesi, ini biasanya tanda ada masalah di pengalaman awal, bukan di jumlah orang yang mendaftar. Bisa jadi proses booking-nya terlalu rumit, konselornya kurang cocok dengan kebutuhan spesifik karyawan, atau ekspektasi awal karyawan tidak sesuai dengan yang mereka dapat di sesi pertama.
Tanyakan soal kerahasiaan. Kalau karyawan ragu data konsultasi mereka bisa “sampai” ke HR atau atasan mereka, ini jadi barrier besar yang membuat mereka lebih memilih tidak memakai layanan sama sekali daripada mengambil risiko itu, meskipun secara desain sistem sudah dijamin rahasia.
Ada alasan struktural kenapa EAP tradisional (hotline dan sesi tatap muka dengan kuota terbatas) cenderung stagnan di angka penggunaan rendah selama puluhan tahun, bukan cuma kebetulan.
Model tradisional biasanya reaktif: karyawan harus sudah menyadari mereka punya masalah, mencari nomor telepon EAP, menelepon di jam kerja tertentu, lalu menunggu dijadwalkan sesi. Setiap langkah di rangkaian ini adalah titik di mana karyawan bisa berhenti mencoba.
Model EAP alternatif yang lebih holistik dan berbasis aplikasi terbukti mencapai utilization rate signifikan lebih tinggi dibanding model tradisional, karena pendekatannya lebih preventif, bukan hanya menunggu karyawan datang saat krisis, dan menghilangkan tebak-tebakan soal dukungan apa saja yang tersedia lewat desain satu pintu yang mudah diakses. Pola serupa juga terlihat dari penyedia lain di industri yang melaporkan lonjakan penggunaan berlipat ganda dibanding model tradisional lewat akses yang lebih cepat, pelacakan hasil yang lebih jelas, dan desain yang mengurangi stigma dalam memulai penggunaan layanan.
Titik masuk yang lebih rendah friksinya, misalnya chat berbasis WhatsApp yang bisa dimulai kapan saja tanpa harus menelepon di jam kerja tertentu, adalah salah satu perubahan desain yang paling sering disebut berkontribusi pada kenaikan angka penggunaan di platform EAP generasi baru.
Data dari praktik EAP on-the-ground Riliv menunjukkan pola yang konsisten dengan temuan global: hambatan terbesar bukan penolakan karyawan terhadap konsep bantuan kesehatan mental, tapi ketidaktahuan bahwa jalur bantuan itu ada dan mudah diakses. Ribuan sesi konseling dan puluhan ribu respons skrining karyawan dari puluhan organisasi lintas industri di Indonesia yang Riliv layani menunjukkan bahwa perusahaan yang investasi lebih besar di komunikasi dan onboarding program pada bulan-bulan pertama cenderung melihat pola keterlibatan yang jauh lebih sehat dibanding perusahaan yang hanya “meluncurkan” program lalu berhenti mengomunikasikannya. Ini konsisten dengan pola global yang sudah dibahas di atas: EAP yang aksesnya dimulai dari kanal yang sudah dipakai karyawan sehari-hari, seperti WhatsApp, cenderung punya titik masuk yang jauh lebih rendah friksinya dibanding harus menelepon nomor hotline yang jarang diingat orang.
Beberapa langkah yang paling sering terbukti efektif menaikkan angka penggunaan, tanpa harus mengganti seluruh program:
Onboarding terstruktur di awal, bukan sekali pengumuman. Program yang diluncurkan lewat email sekali lalu dilupakan biasanya kalah efektif dibanding program yang terus dikomunikasikan lewat berbagai kanal selama beberapa minggu pertama, termasuk lewat manajer lini yang ikut menyebarkan informasi ke tim masing-masing.
Permudah titik masuk pertama. Semakin sedikit langkah yang dibutuhkan karyawan untuk memulai (idealnya cukup kirim pesan chat), semakin kecil kemungkinan mereka berhenti di tengah jalan sebelum benar-benar mencoba layanan.
Komunikasikan kerahasiaan secara eksplisit dan berulang. Sekali menyebutkan “ini rahasia” di pengumuman awal biasanya tidak cukup. Karyawan perlu diyakinkan berulang kali, terutama lewat contoh konkret soal data apa saja yang benar-benar dilihat HR (biasanya hanya agregat, bukan detail individu).
Libatkan manajer lini sebagai penyalur informasi, bukan pengawas program. Manajer yang paham cara merujuk anggota timnya ke program EAP, tanpa ikut menekan atau mengawasi siapa yang memakainya, bisa jadi jembatan penting antara program dan karyawan yang sebenarnya butuh tapi ragu mendaftar sendiri.
Pantau data secara berkala, bukan hanya saat laporan tahunan. Dashboard yang bisa dilihat HR secara rutin (bukan cuma laporan tahunan sekali setahun) membuat tim bisa bereaksi lebih cepat kalau ada penurunan tren, misalnya setelah periode tertentu di mana biasanya beban kerja naik.
Segmentasikan komunikasi sesuai kebutuhan berbeda tiap kelompok karyawan. Karyawan di level staf junior, manajer lini, dan tim lapangan biasanya punya barrier yang berbeda untuk mulai memakai layanan. Staf junior mungkin ragu karena belum familiar dengan konsep konseling, manajer lini mungkin merasa tidak punya waktu, dan tim lapangan mungkin tidak punya akses internet stabil di jam kerja. Komunikasi program yang sama untuk semua kelompok ini biasanya kurang efektif dibanding pesan yang disesuaikan dengan kekhawatiran spesifik masing-masing.
Ada beberapa jebakan umum yang membuat HR salah mengambil kesimpulan dari data utilization rate. Kesalahan pertama adalah membandingkan angka bulan ke bulan tanpa memperhitungkan musim. Utilization rate biasanya naik di periode tertentu, misalnya menjelang atau setelah periode kerja yang padat, dan turun di periode lain. Membandingkan satu bulan dengan bulan lain tanpa konteks ini bisa menyesatkan kesimpulan soal program yang “menurun” padahal itu memang pola musiman biasa.
Kesalahan kedua adalah menganggap kenaikan utilization rate sebagai kabar buruk karena berarti “makin banyak karyawan bermasalah.” Ini logika yang terbalik. Kenaikan utilization biasanya justru tanda program semakin dipercaya dan lebih mudah diakses, bukan tanda kondisi organisasi memburuk. Justru penurunan tiba-tiba yang lebih pantas dicurigai, terutama kalau terjadi setelah perubahan kebijakan atau pergantian vendor.
Kesalahan ketiga adalah berhenti menggali begitu menemukan satu angka utilization rate keseluruhan, tanpa memecahnya lebih jauh per divisi, per level jabatan, atau per lokasi kerja. Rata-rata keseluruhan bisa menyembunyikan kesenjangan besar, misalnya kantor pusat yang utilization-nya sehat sementara cabang di kota lain hampir tidak ada yang memakai layanan sama sekali karena masalah sosialisasi yang tidak merata.
Apakah utilization rate satu-satunya metrik yang perlu dipantau HR? Tidak. Utilization rate penting tapi perlu dilihat bersama metrik lain seperti tren skor wellbeing organisasi, tingkat kepuasan karyawan terhadap layanan (kalau ada survei kepuasan), dan pola sesi tunggal versus sesi berkelanjutan. Utilization rate yang tinggi tapi kepuasan rendah juga sama bermasalahnya dengan utilization rate rendah.
Berapa target utilization rate yang realistis untuk perusahaan di Indonesia? Belum ada benchmark nasional yang baku untuk konteks Indonesia, tapi mengacu pada pola industri EAP secara umum, angka di atas 10 persen sudah lebih baik dari rata-rata EAP tradisional, dan platform yang didesain untuk mengurangi friksi akses biasanya menargetkan jauh di atas itu.
Apakah utilization rate yang tinggi berarti karyawan di perusahaan lebih banyak yang bermasalah? Tidak. Utilization rate yang tinggi lebih sering menunjukkan program yang mudah diakses dan komunikasinya berjalan baik, bukan indikasi jumlah masalah kesehatan mental yang lebih banyak dibanding perusahaan lain.
Apakah vendor EAP wajib memberikan data utilization secara rinci ke HR? Sebaiknya iya, minimal dalam bentuk dashboard agregat dan anonim (tren keseluruhan, bukan identitas individu). Kalau vendor EAP tidak bisa memberikan data dasar ini sama sekali, itu jadi pertanyaan penting yang perlu diajukan sebelum memperpanjang kontrak.
Kalau HR ingin melihat bagaimana pola utilization rate ini bisa dipantau secara real-time lewat dashboard, bukan hanya lewat laporan tahunan yang datang terlambat, coba mulai dari Assessment Gratis dari Riliv untuk melihat gambaran awal kondisi organisasi.

52% karyawan melaporkan mengalami burnout kronis. Tapi tanda-tandanya di level organisasi sering terlewat oleh HR. Artikel ini mengulas 7 sinyal yang perlu kamu perhatikan sebelum terlambat.

Kehilangan satu karyawan bisa menelan biaya setara 6-9 bulan gajinya. Artikel ini membahas 6 strategi berbasis data untuk menekan turnover, termasuk peran penting kesehatan mental dan EAP.

ESOP dijanjikan sebagai insentif masa depan, tapi buat banyak karyawan startup, opsi saham ini justru jadi sumber cemas baru. Ini alasannya dan peran HR di dalamnya.

Teknisi lapangan menanggung target SLA, mobilitas tinggi, dan komplain pelanggan tanpa banyak dukungan dari tim kantor. Ini dampaknya dan yang bisa dilakukan HR.