Pertanyaan ini biasanya muncul di fase yang sama: HR sudah yakin perusahaan butuh program kesehatan mental, direksi juga sudah setuju secara prinsip, tapi begitu masuk ke rapat anggaran, semua orang diam sejenak menunggu satu angka yang belum ada jawabannya. Berapa sebenarnya yang wajar dialokasikan untuk ini?
Kesulitannya, tidak ada satu angka baku yang berlaku sama untuk semua perusahaan, dan mencoba menyalin angka dari perusahaan lain tanpa memahami konteksnya justru bisa menyesatkan. Yang bisa dilakukan HR adalah memahami rentang wajar, faktor yang membuat angka itu naik atau turun, dan cara menghitung yang bisa dipertanggungjawabkan ke direksi atau CFO.
Sebelum membahas kisaran angka, penting dipahami dulu kenapa pertanyaan ini tidak punya jawaban tunggal. Budget benefit karyawan secara umum, termasuk program kesehatan mental, sangat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, industri, dan kondisi pasar kerja saat itu. Sebagai patokan umum, sebagian besar perusahaan mengalokasikan sekitar 10 sampai 30 persen dari total biaya SDM untuk keseluruhan program benefit karyawan, bukan angka yang baku dan sama untuk semua perusahaan.
Angka itu untuk keseluruhan benefit, bukan cuma kesehatan mental. Program kesehatan mental biasanya jadi salah satu komponen dari alokasi benefit yang lebih besar itu, bersanding dengan asuransi kesehatan, tunjangan hari raya, dan benefit lain. Porsi spesifik untuk kesehatan mental sendiri jauh lebih bervariasi lagi, tergantung apakah perusahaan baru mulai (biasanya lebih kecil dulu untuk uji coba) atau sudah menjalankan program serupa sebelumnya dan ingin meningkatkan cakupannya.
Alih-alih bertanya “berapa total budget yang harus disiapkan,” cara berpikir yang lebih membantu adalah menghitung dari sisi biaya per karyawan per bulan, lalu dikalikan jumlah karyawan. Ini pendekatan yang paling umum dipakai vendor EAP secara global, biasa disingkat PEPM (per employee per month).
Struktur biaya yang paling umum ini membebankan biaya bulanan tetap per karyawan, terlepas dari apakah layanan tersebut benar-benar dipakai atau tidak, sehingga menawarkan kepastian biaya yang bisa direncanakan sejak awal. Model ini memang bukan satu-satunya, ada juga model berdasarkan pemakaian aktual atau model gabungan, tapi PEPM tetap yang paling banyak dipilih karena kemudahannya untuk perencanaan anggaran tahunan.
Kisarannya sendiri sangat lebar secara global. Biaya EAP rata-rata per karyawan bervariasi tergantung skala perusahaan dan penyedia layanan, dengan bisnis kecil biasanya membayar per kepala lebih mahal dibanding perusahaan besar yang mendapat keuntungan skala ekonomi. Ini pola yang cukup konsisten di industri EAP secara umum: makin banyak karyawan yang terdaftar, makin murah biaya per kepala yang harus dibayar perusahaan, karena biaya operasional vendor sebagian bersifat tetap terlepas dari jumlah karyawan yang dilayani.
Penting dicatat, angka-angka PEPM yang beredar di riset internasional (biasanya dalam denominasi dolar atau pound) tidak bisa langsung disamakan dengan pasar Indonesia karena perbedaan struktur biaya operasional, standar gaji tenaga profesional, dan skala ekonomi yang berbeda. Untuk perusahaan di Indonesia, cara paling akurat mendapatkan gambaran biaya adalah meminta simulasi langsung dari vendor berdasarkan jumlah karyawan riil, bukan menghitung sendiri dari angka internasional yang konteksnya berbeda.
Ada satu peringatan penting yang sering terlewat saat HR fokus mencari harga termurah. Model PEPM secara desain membuat vendor tetap mendapat bayaran penuh terlepas dari berapa banyak karyawan yang benar-benar memakai layanannya, yang secara struktural justru menciptakan insentif terbalik: semakin sedikit layanan dipakai, semakin besar keuntungan vendor. Ini bukan berarti semua vendor EAP murah otomatis buruk, tapi HR perlu waspada kalau harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari kisaran wajar sementara cakupan layanannya diklaim sama luasnya. Biasanya ada kompromi di suatu tempat, entah di kualitas konselor, kapasitas layanan, atau kedalaman fitur deteksi dini yang sebenarnya paling menentukan apakah program benar-benar dipakai karyawan atau cuma jadi baris di laporan benefit yang tidak pernah disentuh.
Harga yang lebih tinggi juga tidak otomatis berarti lebih baik. Hal yang paling menentukan bukan angka di kontrak, tapi apa yang benar-benar tercakup di dalamnya: apakah termasuk skrining berkala untuk deteksi dini, dashboard yang bisa dipantau HR, dan kapasitas konselor yang cukup untuk menyerap lonjakan kebutuhan, atau hanya hotline dengan kuota sesi yang terbatas per tahun.
Beberapa variabel yang paling menentukan besaran budget yang realistis untuk perusahaan tertentu:
Jumlah karyawan. Ini variabel paling jelas. Semakin banyak karyawan terdaftar, semakin besar total anggaran tahunan, tapi biasanya biaya per kepala justru menurun karena skala ekonomi.
Cakupan layanan yang diinginkan. Program yang hanya mencakup konseling dasar biasanya lebih murah dibanding program yang juga mencakup konsultasi finansial, hukum, career coaching, atau cakupan untuk keluarga karyawan. Semakin luas cakupan, semakin tinggi biayanya, tapi ini juga sebanding dengan semakin luasnya masalah yang bisa ditangani sebelum berdampak ke produktivitas.
Tingkat maturity organisasi soal isu kesehatan mental. Perusahaan yang baru pertama kali mencoba program semacam ini biasanya lebih realistis memulai dari paket dasar untuk membangun kebiasaan dan mengukur kebutuhan riil dulu, sebelum berinvestasi lebih besar di paket yang lebih lengkap. Perusahaan yang sudah menjalankan program serupa sebelumnya dan tahu persis pola kebutuhan karyawannya biasanya lebih siap berinvestasi di cakupan yang lebih luas sejak awal.
Industri dan profil risiko karyawan. Industri dengan tingkat stres kerja yang secara struktural lebih tinggi (misalnya sektor dengan shift kerja panjang, target harian yang ketat, atau risiko keselamatan fisik) biasanya lebih membutuhkan cakupan yang lebih komprehensif dibanding industri dengan pola kerja yang relatif lebih stabil.
Menyebut angka budget saja ke direksi biasanya tidak cukup meyakinkan. Yang lebih efektif adalah membingkai angka itu dalam konteks yang relevan bagi mereka.
Bandingkan dengan biaya yang sudah dikeluarkan tanpa disadari. Turnover karyawan, biaya rekrutmen pengganti, dan hilangnya produktivitas akibat karyawan yang bekerja dalam kondisi stres berat semuanya adalah biaya nyata yang sudah dikeluarkan perusahaan, hanya saja tidak tercatat sebagai satu baris anggaran yang jelas. Membandingkan budget program kesehatan mental dengan estimasi biaya-biaya tersembunyi ini biasanya jauh lebih persuasif dibanding sekadar menyebut angka program itu sendiri.
Sajikan sebagai biaya per kepala, bukan angka total yang besar. Angka total tahunan untuk seluruh karyawan bisa terlihat besar dan menakutkan di atas kertas, padahal kalau dipecah per karyawan per bulan, angkanya sering jauh lebih masuk akal dan mudah dibandingkan dengan benefit lain yang sudah berjalan.
Mulai dari skala yang bisa diuji, bukan komitmen penuh sejak awal. Untuk perusahaan yang belum pernah menjalankan program semacam ini, mengusulkan pilot dengan skala lebih kecil atau paket dasar dulu biasanya lebih mudah disetujui dibanding langsung mengusulkan paket paling lengkap. Hasil dari pilot ini kemudian bisa jadi bukti konkret untuk mengusulkan perluasan cakupan di tahun berikutnya.
Sebagai gambaran kasar, program EAP modern seperti yang ditawarkan Riliv umumnya dihitung berdasarkan jumlah karyawan terdaftar, dengan total kontrak tahunan yang disesuaikan skala perusahaan. Untuk perusahaan skala kecil dengan puluhan karyawan, kontrak tahunan bisa dimulai dari kisaran belasan juta rupiah. Untuk perusahaan skala menengah dengan ratusan karyawan, kisarannya naik proporsional sesuai jumlah karyawan yang terdaftar, tapi biaya per kepala per bulannya justru menurun dibanding perusahaan yang lebih kecil.
Pola ini konsisten dengan yang terjadi di pasar EAP secara umum: skala yang lebih besar mendapat harga per kepala yang lebih efisien. Untuk perusahaan yang ingin mendapat gambaran pasti sesuai kondisi organisasinya sendiri, cara tercepat adalah meminta simulasi harga langsung berdasarkan jumlah karyawan riil, karena setiap vendor punya struktur harga yang sedikit berbeda tergantung cakupan layanan yang ditawarkan.
Jangan menetapkan budget sebelum tahu skala kebutuhan riil. Beberapa perusahaan menetapkan angka budget dulu (misalnya “pokoknya maksimal sekian juta setahun”) tanpa memahami dulu berapa jumlah karyawan yang perlu tercover dan cakupan layanan seperti apa yang realistis di angka itu. Ini sering berujung memilih paket yang terlalu minim untuk kebutuhan riil organisasi.
Jangan menyamakan budget kesehatan mental dengan budget acara employee engagement biasa. Ada kecenderungan sebagian perusahaan menganggap program kesehatan mental setara dengan acara gathering, lomba internal, atau kegiatan seru-seruan lain yang sifatnya sekali jalan dan bisa dianggarkan secara ad-hoc. Program kesehatan mental yang efektif butuh komitmen berkelanjutan sepanjang tahun, bukan acara sesekali, sehingga cara menganggarkannya juga perlu diperlakukan seperti benefit reguler (mirip asuransi kesehatan), bukan seperti anggaran acara tahunan yang sifatnya sekali pakai.
Jangan lupakan biaya komunikasi dan onboarding di luar biaya layanan itu sendiri. Program yang bagus tapi tidak dikomunikasikan dengan baik ke karyawan akan sepi pemakai terlepas dari seberapa besar budgetnya. Sebagian dari alokasi waktu dan sumber daya HR untuk sosialisasi program juga perlu dihitung sebagai bagian dari investasi ini, meski tidak selalu muncul sebagai baris terpisah di kontrak vendor.
Jangan hanya membandingkan angka tanpa membandingkan cakupannya. Dua penawaran dengan angka yang mirip bisa punya cakupan yang sangat berbeda. Salah satu bisa termasuk skrining berkala dan dashboard early warning, sementara yang lain hanya mencakup hotline konseling dasar. Membandingkan harga tanpa membandingkan detail cakupan ini adalah kesalahan paling umum yang membuat perusahaan menyesal setelah kontrak berjalan beberapa bulan.
Jangan mengasumsikan seluruh karyawan akan langsung memakai layanan di tahun pertama. Sebagian HR menghitung budget dengan asumsi hampir semua karyawan akan aktif memakai layanan konseling secara reguler, lalu kaget saat menegosiasikan cakupan sesi karena angkanya jadi sangat besar. Realitanya, seperti dibahas di artikel soal utilization rate, mayoritas program EAP di mana pun biasanya hanya dipakai sebagian kecil karyawan secara aktif dalam setahun. Ini bukan alasan untuk mengecilkan cakupan secara sembarangan, tapi penting dipahami supaya ekspektasi awal soal biaya tidak melenceng jauh dari kenyataan operasional.
Timing pengajuan budget ke direksi juga mempengaruhi seberapa besar kemungkinan disetujui. Mengajukan di tengah siklus anggaran tahunan yang sudah dikunci biasanya jauh lebih sulit dibanding mengajukannya saat perusahaan sedang menyusun rencana anggaran tahun berikutnya. Momentum juga penting. Kalau ada kejadian konkret yang baru terjadi, misalnya lonjakan turnover yang terlihat jelas di data HR, insiden yang menunjukkan tanda kelelahan kerja parah, atau hasil medical check-up tahunan yang menunjukkan pola kesehatan mental yang mengkhawatirkan, ini bisa jadi momentum yang lebih kuat untuk mengajukan budget dibanding mengajukannya tanpa konteks apa pun. Direksi cenderung lebih responsif terhadap masalah yang terasa konkret dan mendesak dibanding proposal yang dibingkai sebagai “inisiatif proaktif” tanpa bukti dampak yang jelas.
Bagi perusahaan yang siklus anggarannya mengikuti tahun kalender, masa paling ideal biasanya di kuartal ketiga, saat rencana anggaran tahun depan mulai disusun tapi belum final. Mengajukan di periode ini memberi waktu cukup untuk diskusi dan revisi sebelum keputusan akhir diambil, dibanding mengajukan mendadak di akhir tahun saat semua alokasi sudah mendekati final.
Apakah perusahaan kecil dengan budget terbatas tetap bisa punya program kesehatan mental yang layak? Bisa. Banyak vendor EAP modern menyediakan paket bertingkat yang disesuaikan skala perusahaan, termasuk opsi awal yang lebih terjangkau untuk perusahaan kecil sebelum meningkatkan cakupan di tahun-tahun berikutnya.
Apakah budget program kesehatan mental sebaiknya dianggarkan terpisah dari budget asuransi kesehatan? Sebaiknya iya, karena cakupan dan tujuannya berbeda seperti sudah dibahas di artikel perbandingan EAP dan asuransi kesehatan. Menganggarkannya terpisah membuat evaluasi masing-masing program lebih jelas.
Berapa lama biasanya kontrak program kesehatan mental berjalan sebelum dievaluasi ulang? Umumnya kontrak tahunan, dengan evaluasi berkala di tengah periode kontrak (misalnya per kuartal) untuk memantau tren pemakaian, sebelum keputusan perpanjangan atau penyesuaian cakupan diambil menjelang akhir kontrak.
Apakah ada cara mendapatkan estimasi biaya sebelum berkomitmen ke kontrak penuh? Ada. Sebagian vendor menyediakan asesmen awal gratis atau versi uji coba terbatas untuk memberi gambaran kondisi organisasi sebelum memutuskan paket berbayar. Riliv misalnya menyediakan Wellbeing Check gratis sebagai langkah awal sebelum menentukan paket yang sesuai.
Untuk mendapatkan gambaran pasti berapa budget yang realistis sesuai jumlah karyawan dan kebutuhan spesifik organisasi, cara tercepat adalah meminta simulasi langsung di sini, tanpa harus menebak-nebak dari angka generik yang belum tentu relevan dengan kondisi perusahaan sendiri.

52% karyawan melaporkan mengalami burnout kronis. Tapi tanda-tandanya di level organisasi sering terlewat oleh HR. Artikel ini mengulas 7 sinyal yang perlu kamu perhatikan sebelum terlambat.

Kehilangan satu karyawan bisa menelan biaya setara 6-9 bulan gajinya. Artikel ini membahas 6 strategi berbasis data untuk menekan turnover, termasuk peran penting kesehatan mental dan EAP.

ESOP dijanjikan sebagai insentif masa depan, tapi buat banyak karyawan startup, opsi saham ini justru jadi sumber cemas baru. Ini alasannya dan peran HR di dalamnya.

Teknisi lapangan menanggung target SLA, mobilitas tinggi, dan komplain pelanggan tanpa banyak dukungan dari tim kantor. Ini dampaknya dan yang bisa dilakukan HR.