Categories: Your Story

#YourStory: Kisah Perjuangan Dinah Sembuh dari Gangguan Makan

Dinah merupakan seorang gadis yang ingin sembuh dari gangguan makan yang sedang ia alami.

Pada tahun 2014, Dinah terdiagnosis dengan gangguan makan yang disebut dengan OSFED (Other Specified Feeding or Eating Disorder).

Sejak remaja, ia selalu ingin terlihat kurus sehingga sangat rajin berolahraga dan membatasi makanannya.

Butuh waktu 20 tahun baginya untuk menyadari bahwa obsesinya selama ini ternyata merupakan gejala gangguan kesehatan mental.

Berawal dari membandingkan tubuhnya dengan orang lain

(Photo by Oleg Sergeichik on Unsplash)

Ketika berumur 11 tahun, Dinah selalu membandingkan ukuran tubuhnya dengan teman-teman perempuannya yang lain.

“Kenapa tubuhku besar, sedangkan tubuh mereka kecil?”

“Aku mau punya tubuh sekecil mereka, gimana caranya, ya?”

Pemikiran seperti ini semakin kuat ketika ia berada di bangku SMP dan SMA, sehingga Dinah mulai membatasi makannya dan mengidap gangguan makan.

Memasuki masa kuliah, gejala gangguan makannya berkurang. Ia memiliki teman-teman baru yang membuatnya lupa dengan pemikiran negatifnya dulu.

Hal tersebut seolah menjadi titik terang bagi Dinah agar ia bisa sembuh dari gangguan makan.

Dinah pun akhirnya memilih untuk lebih fokus pada kuliahnya ketimbang terjebak dalam pikiran negatifnya.

Hanya makanan yang bisa menjadi pelipur lara

(Photo by Pablo Merchán Montes on Unsplash)

Dua tahun kemudian, Dinah giat berlatih untuk triatlon yang mengakibatkan berat badannya turun secara drastis.

Dinah merasa sangat senang. Ia pun menjadi fokus untuk kembali menurunkan berat badannya.

Akan tetapi, di tahun terakhir masa kuliah, Dinah mengalami cedera kaki dan juga kehilangan kakek tercinta.

Makanan menjadi pelarian untuk menghibur dirinya, mengusir pikiran negatif darinya. Tak ayal, berat badannya pun kembali naik drastis.

Segala cara telah dilakukan untuk mendapat berat badan yang ‘ideal’

(Photo by Trust “Tru” Katsande on Unsplash)

Tahun 2002 menjadi tahun permulaan di mana Dinah melakukan segala cara untuk kembali menurunkan berat badannya.

Ia mulai membatasi makanannya sehari-hari dan rutin pergi ke pusat kebugaran untuk berolahraga.

Pada tahun 2003, ia berhasil menurunkan 10 kg namun tetap belum merasa puas. Menurutnya, ia masih kurang kurus.

Dinah merasa sangat putus asa. Ia sangat membenci tubuhnya dan merasa gagal.

Semenjak itu, ia lebih rutin lagi berolahraga, menghabiskan waktunya di gym setiap hari dan hanya makan 1500 kalori per harinya.

Meskipun Berat badannya berhasil turun sebanyak 16 kg,  ia masih belum puas juga.

Semenjak saat itu, sembuh dari gangguan makan rasanya hanya angan-angan belaka bagi Dinah.

Kesehatan fisik dan jiwanya ditentukan oleh angka-angka pada timbangan

(Photo by i yunmai on Unsplash)

Dinah menimbang berat badannya dua kali sehari. Moodnya sangat bergantung pada angka-angka di timbangan tersebut.

Bila berat badannya turun, ia akan menjadi sangat gembira. Sebaliknya, bila naik, meskipun hanya setengah kilogram, ia merasa sangat sedih dan depresi.

Pada tahun 2007, siklus menstruasinya turut terganggu karena kurangnya asupan lemak dan nutrisi dalam makanan yang ia konsumsi.

Bahkan, hal ini juga menyebabkan Dinah kesulitan untuk mempunyai anak!

Pemikiran negatif tentang tubuhnya yang membawa Dinah pada gangguan makan

(Photo by rawpixel on Unsplash)

Dinah menemukan titik balik ketika ia terdiagnosa mengalami depresi. Ia pun memutuskan untuk menjalani beberapa terapi.

Terapis yang menanganinya mengungkap bahwa kebiasaan makan dan berolahraga pada Dinah disebabkan oleh pemikiran negatif tentang tubuhnya sendiri.

Ternyata hal tersebut merupakan gejala gangguan makan! Dinah lantas disarankan untuk pergi ke klinik sebagai upaya untuk sembuh dari gangguan makan

Perjuangannya menjalani terapi kini berbuah manis karena Dinah berhasil sembuh dari gangguan makan

(Photo by Sayo Garcia on Unsplash)

Sejak saat itu, Dinah menjalani terapi setiap minggunya bersama beberapa orang lain yang juga memiliki gangguan sama dengannya.

Meskipun awalnya merasa kesulitan, akhirnya ia berhasil melakukan pemulihan dari penyakit yang menyiksanya bertahun-tahun.

Kehadiran teman-teman seperjuangan juga sangat bermakna baginya karena dengan begitu ia tidak merasa sendirian. Ia juga tahu betapa penting kesehatan mentalnya.

Dinah sangat bangga telah melewati tahun-tahun kelam yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Kini ia bisa menerima diri sendiri dan mencintai tubuhnya.

Disadur dari:

  1. https://link.medium.com/t8knCzwmJT
  2. https://www.eatingdisorderhope.com/information/eating-disorder
  3. https://www.eatingrecoverycenter.com/conditions/osfed/quiz

Translated and modified by Lyana Nurtari Putri. Longing for an adventure.

Share

Recent Posts

Memanggil Kamu yang Menikah: Hindari 4 Hal Ini dalam Membina Rumah Tangga!

Membina rumah tangga yang akur dan awet hingga masa tua adalah impian banyak orang. Jika kamu ingin mencapainya, mulai sekarang…

12 hours ago

“Meditasi Mengenal Diri”, Tren Baru untuk Mengatasi Stres

Setiap orang pasti memiliki fase dimana ia akan mengalami kecemasan yang luar biasa. Bahkan, seseorang yang terlihat bahagia belum tentu…

2 days ago

Beragam Aksi Caleg Stres Pasca Pemilu: Beneran Ada?

Menjelang pemilihan umum, banyak sekali berita yang mengumumkan bahwa rumah sakit jiwa di berbagai daerah siap menampung calon legislatif (caleg)…

2 days ago

Kekerasan dalam Pacaran: Mengapa Masih Bertahan dengan Pacar yang Kasar?

Setiap hubungan pasti tidak lepas dari perselisihan dan bertengkar dengan pasangan. Tetapi, tidak pernah ada yang membenarkan kekerasan dalam pacaran.…

3 days ago

Gugup, Demam Panggung, Begini Cara Ampuh Mengatasinya!

Bicara tentang demam panggung, tentu setiap orang bisa mengalaminya. Bahkan seseorang yang sudah profesional sekalipun. Lalu, ketika kita menyadari memiliki…

4 days ago

Merasa Di-bully? Cobalah 8 Cara Ampuh Menghadapi Bullying

Pernah menjadi korban bullying? Bullying termasuk bentuk penindasan atau intimidasi yang sering dijumpai dan sering juga diabaikan. Bahkan pada kasus…

4 days ago