Ragu dengan Konseling Online? Cek Dulu Ulasan Pakar Ini!

Teknologi baru memang tidak mudah diterima khalayak. Beberapa inovasi mutakhir seperti Google, Amazon, atau Facebook dulunya juga sempat dipandang sebelah…

Teknologi baru memang tidak mudah diterima khalayak. Beberapa inovasi mutakhir seperti Google, Amazon, atau Facebook dulunya juga sempat dipandang sebelah mata. Hal tersebut juga berlaku bagi konseling online.

Masyarakat Indonesia seolah belum sepenuhnya percaya dengan perpaduan teknologi dan ilmu psikologi ini. Keraguan muncul mengenai efektivitas konseling via aplikasi online dalam menyelesaikan permasalahan klien. Dalam artikel ini, Riliv akan menjawab kritik tersebut dengan menyajikan ulasan-ulasan para pakar mengenai metode konseling melalui media online. Masih ragu? Mungkin kamu perlu baca ulasan ini.

Konseling Online Bermula dari Itikad Baik Konselor dalam Menjangkau Kliennya yang Membutuhkan

Sumber gambar: pixabay.com dari pexels

Inisiatif konseling online semula berawal dari konseling via telfon pada tahun 1994. Kemajuan teknologi komunikasi memudahkan para konselor untuk memberikan layanan konseling kepada orang yang membutuhkan.

Pada saat itu, layanan konseling via telfon ditujukan untuk orang-orang yang berada di lokasi yang jauh dan tidak memiliki layanan konseling profesional. Selain itu, orang-orang yang tidak bisa meninggalkan rumah karena kondisi fisik tertentu juga ikut terbantu melalui layanan ini. Mereka bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan tanpa harus meninggalkan rumah.

Dikelola Secara Profesional, Kamu Tidak Perlu Takut Untuk Melepaskan Permasalahanmu

Sumber gambar: rawpixel dari pexels

Berkembangnya praktik konseling melalui telfon dan internet membuat para konselor menyadari perlunya institusi profesi yang mewadahi praktik konseling ini. Di akhir tahun 1990, terbentuklah International Society for Mental Health Online (ISMHO) yaitu organisasi yang mempromosikan penggunaan dan pengembangan teknologi online bagi para profesional kesehatan mental.

Selain terbentuknya organisasi profesi ini, organisasi profesi psikolog dan konselor di Amerika, Inggris, Kanada, dan Australia masing-masing telah menerbitkan panduan terkait praktik konseling online secara profesional. Panduan tersebut ditujukan untuk menjelaskan wewenang, tugas, serta pedoman praktik bagi para konselor.

Dibalik Kesuksesan Konseling Online, Terdapat Praktik Terbaik dari Terapi Naratif

Sumber gambar: Todoran Bogdan dari pexels

Di dalam ulasannya, Jeannie Wright, seorang pakar konseling di Inggirs, menjelaskan bahwa keberhasilan konseling online dalam menyelesaikan permasalahan klien salah satunya dikarenakan adanya terapi naratif. Terapi naratif adalah metode terapi dimana klien membuat tulisan ekspresif dan reflektif mengenai kisah hidupnya.

Dalam sesi konseling ini, klien yang curhat mengenai permasalahannya menuliskan permasalahannya dalam bentuk teks. Proses menulis teks tersebut membuat klien menyusun kata dan kalimat agar sesuai dengan apa yang ingin ia ungkapkan. Hal tersebut kemudian membuat klien merefleksikan pengalaman hidupnya dengan lebih seksama. Dan lagi, konselor yang bertugas juga memandu klien untuk dapat merefleksikan pengalaman hidupnya dengan meninjau kembali history chat antara sang klien dan konselor.

Konseling online mampu menjadi solusi praktis bagi yang membutuhkan. Meskipun ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi dengan tatap muka, namun konseling online dapat dijadikan pelengkap dalam menyelesaikan permasalahan hidup manusia secara cepat dan efisien. Yuk coba konseling online dengan RILIV sekarang juga, because no one understands you like we do!

Referensi

  1. Chester, A. and Glass, C. A. (2006) ‘Online counselling: A descriptive analysis of therapy services on the Internet’, British Journal of Guidance and Counselling, pp. 145–160. doi: 10.1080/03069880600583170.
  2. Oravec, J. A. (2000) ‘Online counselling and the Internet: Perspectives for mental health care supervision and education’, Journal of Mental Health, 9(2), pp. 121–135.
  3. Wright, J. (2002) ‘Online counselling: Learning from writing therapy’, British Journal of Guidance and Counselling, pp. 285–298. doi: 10.1080/030698802100002326.

Handy is a shamelessly rebellious researcher. He is currently working on adapting psychological scales into Indonesian. Reach him out via insta @handy.et.al

Content Writer

Recent Posts

‘Aku gak papa’ tapi Menggurutu? Kenali 6 Kalimat Andalan Orang Pasif Agresif

"Aku gak papa", kata Nisa sambil sesekali menggerutu. Dibalik kata "Oke", kok dia terlihat jutek? Kenapa dia menunjukkan ketidaksenangan atas…

2 weeks ago

4 Drama Tentang Psikologi ini Bisa Mengisi Pengetahuan dan Liburan Kamu

Siapa sih yang gak suka nonton serial drama? Kalau kamu pecinta drama korea, pasti kamu udah biasa untuk nonton drama…

2 weeks ago

Komunitas ABK: #KitaSama untuk Lingkungan yang Lebih Ramah Anak Berkebutuhan Khusus

Banyak anak yang ketika dilahirkan tidak seperti anak kebanyakan. Fungsi dari organ yang mereka miliki tdak berjalan sesuai dengan bagaimana…

3 weeks ago

Gadget Untuk Anak: Umur Berapa Anak Boleh Punya Gadget?

Memberikan gadget untuk anak sejak usia dini merupakan salah satu polemik bagi orangtua jaman milenial. Pemandangan handphone untuk menenangkan anak…

4 weeks ago

Hear Me, Feel Me – Mengungkap Cinta Tanpa Suara Lewat Seminar Bahasa Isyarat

Tak selamanya tepuk tangan itu gemuruh dan Aku cinta kalian adalah ungkapan yang lantang. Begitulah yang dirasakan seluruh peserta seminar…

4 weeks ago

Menghargai Diri Sendiri Bisa Buat Kamu Bahagia, lho! Ini Dia 7 Rahasianya

Menghargai diri sendiri terkadang dianggap sebagai perbuatan egois dalam berbagai situasi. Harga diri bisa terangkat apabila kita bisa melayani permintaan…

4 weeks ago