Merasa putus asa? Yuk bangkit kembali dengan 5 tips berikut

Dalam hidup, ada masa dimana kita merasa berada dalam titik terendah. Pada saat itu, kita merasa putus asa dan apa…

Dalam hidup, ada masa dimana kita merasa berada dalam titik terendah. Pada saat itu, kita merasa putus asa dan apa yang kita lakukan tidak dapat merubah keadaan. Titik terendah itu bisa saja berbeda-beda untuk tiap orang. Ada yang merasa putus asa lantaran hubungannya dengan kekasih kandas. Ada pula yang merasa putus asa lantaran selalu gagal ketika ia berusaha mengubah nasib. Tentunya masih ada banyak skenario lain yang menunjukkan bahwa siapa pun kita, perasaan putus asa bisa datang begitu saja.

Dear, apabila saat ini kamu sedang putus asa, tidak apa-apa. Riliv punya 5 tips berikut untuk membantumu kembali bangkit dari keputusasaan. Cek tips berikut ini!

Merasa putus asa di dunia yang fana itu membutuhkan refleksi hidup

Sumber gambar: pixabay.com dari Pexels

Seringkali kita mendengar tentang betapa fananya hidup. Baik itu disampaikan oleh pemuka agama atau hanya sebatas obrolan sehari-hari. Meskipun terkesan klise, ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Memahami bahwa semua yang kita lakukan pada akhirnya bersifat sementara dan tidak kita bawa mati membuat kita menjadi rendah hati menerima kenyataan hidup ini.

Gagal lebih terhormat daripada tidak mencoba

Sumber gambar: Tiarachard Kumtanom dari Pexels

Perasaan putus asa yang kita rasakan, bisa jadi disebabkan oleh kegagalan kita dalam meraih impian besar kita. Impian tersebut justru kadang tidak realistis. Menjadi presiden, misalnya, tentu juga impian orang lain. Ada persaingan untuk bisa meraih impian itu. Kegagalan seseorang adalah keberhasilan bagi orang lain. Be fine with that dear.

Baca Juga: 5 Lagu Yang Bantu Kamu Lebih Percaya Diri!

Bantah putus-asamu dengan merayakan kemenangan-kemenangan kecil

Sumber gambar: Trinity Kubassek dari Pexels

Pikiran putus asa dapat berujung pada perasaan depresi yang berkepanjangan. Saat kita berfikir “tidak ada hal yang bisa kulakukan untuk merubah ini”, kita mulai tenggelam dalam lingkaran keputus-asaan. Pada saat itulah, kita perlu membantah pikiran-pikiran tersebut.

Langkah sederhana yang bisa kamu lakukan adalah dengan merayakan kemenangan kecil yang telah kamu raih. Mengikuti konferensi di dalam negeri adalah capaian kecil dibanding mereka yang sudah melancong ke luar negeri. Meski begitu, sadarilah bahwa kemenangan bahwa kamu bisa meraih konferensi itu patut dirayakan untuk dirimu sendiri.

Kamu tidak sendiri, putus asa bisa jadi epidemi

Sumber gambar: Alvin Decena dari Pexels

Psychology Today menerangkan bahwa putus asa bisa menjadi epidemi yang menjangkit suatu negara. Dalam artikel tersebut, beliau menjelaskan bahwa di Amerika sedang terjadi epidemi keputusasaan.

Warga Amerika merasakan keputusasaan lebih tinggi dibanding negara-negara lain lantaran kebijakan publik di Amerika yang sangat individualistis. Jaminan sosial di Amerika tidak mencakup orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Hal tersebut kemudian berimbas pada meningkatnya atmosfir keputus-asaan di negara tersebut.

Artikel tersebut menunjukkan kepada kita bahwa siapapun dapat merasa putus asa. Oleh karenanya jangan berkecil hati dan merasa sendirian. Orang lain di sekitar kita juga merasa demikian. Bahkan, bisa jadi orang-orang yang terlihat paling menderita di sekeliling kita justru orang yang memiliki api harapan paling terang.

Sambung silaturahmi dengan keluarga dan teman dekat

Sumber gambar: Creative Vix dari Pexels

Seringkali perasaan putus asa membuat kita enggan bersosialisasi. Kita menjadi murung dan cenderung mengurung diri. Padahal kecenderungan ini justru membuat kita menjadi lebih menderita. Cobalah menyambung kembali silaturahmi, khususnya dengan keluarga. Ceritakan kepada ayah, ibu, saudara, atau pasanganmu tentang keresahan yang sedang kamu rasakan. Terbukalah dengan mereka.

Jadi, ketika suatu saat kamu mulai merasa putus asa, ingat-ingatlah5 tips dari Riliv ini. Apabila kamu merasa butuh teman untuk berbagi cerita, jangan ragu untuk menggunakan layanan Riliv. Psikolog profesional kami siap mendengarkan keluh kesahmu tanpa adanya penghakiman. Yuk atasi keputusasaanmu dengan optimisme dan Riliv yang siap membantumu!

Referensi

  1. Benjamin Radcliff. (2015). An Epidemic of Hopelessness? | Psychology Today. Diakses pada April 15, 2018, dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-economy-happiness/201511/epidemic-hopelessness

 

Handy is a shamelessly rebellious researcher. He is currently working on adapting psychological scales into Indonesian. Reach him out via insta @handy.et.al

Content Writer

Recent Posts

‘Aku gak papa’ tapi Menggurutu? Kenali 6 Kalimat Andalan Orang Pasif Agresif

"Aku gak papa", kata Nisa sambil sesekali menggerutu. Dibalik kata "Oke", kok dia terlihat jutek? Kenapa dia menunjukkan ketidaksenangan atas…

2 weeks ago

4 Drama Tentang Psikologi ini Bisa Mengisi Pengetahuan dan Liburan Kamu

Siapa sih yang gak suka nonton serial drama? Kalau kamu pecinta drama korea, pasti kamu udah biasa untuk nonton drama…

2 weeks ago

Komunitas ABK: #KitaSama untuk Lingkungan yang Lebih Ramah Anak Berkebutuhan Khusus

Banyak anak yang ketika dilahirkan tidak seperti anak kebanyakan. Fungsi dari organ yang mereka miliki tdak berjalan sesuai dengan bagaimana…

3 weeks ago

Gadget Untuk Anak: Umur Berapa Anak Boleh Punya Gadget?

Memberikan gadget untuk anak sejak usia dini merupakan salah satu polemik bagi orangtua jaman milenial. Pemandangan handphone untuk menenangkan anak…

4 weeks ago

Hear Me, Feel Me – Mengungkap Cinta Tanpa Suara Lewat Seminar Bahasa Isyarat

Tak selamanya tepuk tangan itu gemuruh dan Aku cinta kalian adalah ungkapan yang lantang. Begitulah yang dirasakan seluruh peserta seminar…

4 weeks ago

Menghargai Diri Sendiri Bisa Buat Kamu Bahagia, lho! Ini Dia 7 Rahasianya

Menghargai diri sendiri terkadang dianggap sebagai perbuatan egois dalam berbagai situasi. Harga diri bisa terangkat apabila kita bisa melayani permintaan…

4 weeks ago