Kamu Mungkin Udah Bikin Nyesek Mahasiswa Psikologi dengan 10 Kalimat Ini (part 2)

mahasiswa psikologi

Apa yang melintas di pikiranmu ketika mendengar ilmu psikologi? Astrologi? Membaca gerak tubuh? Atau justru meramal masa depan? Banyak sekali anggapan bahwa mahasiswa psikologi mampu membaca hati dan perasaan lawan bicaranya. Ketika ditanya ‘Kuliah dimana’ dan dijawab ‘Psikologi’, yang terlintas pasti ‘Bisa baca sifatku dong?’

Tapi jangan salah, ilmu psikologi tidak sesederhana itu, lho. Tanpa kamu sadari mungkin mereka gemas-gemas-sebel mendengar kata-kata tertentu yang tidak sesuai dengan kuliah mereka. Agar tidak disalahpahami lagi, Riliv sudah menyiapkan daftar hal-hal yang bikin nyesek mahasiswa psikologi yang bisa kamu hindari sekaligus belajar hal baru. Kamu sudah ngomong yang mana, Dear?

6. “Kok gak kuliah lain aja? Kan ntar ngurusin orang gila.”

Hayo, sudah berapa kali kamu menanyakan hal ini? Psikolog memang identik dengan penyembuhan gangguan jiwa sehingga kerap tampil sebagai narasumber kejiwaan di media tanah air. Tetapi apakah ranah psikologi hanya itu saja? Tentu tidak, karena dimana ada manusia di situ ada psikologi. Human Resources & Development adalah bagian perusahaan yang menangani seleksi calon karyawan maupun bertanggungjawab memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Psikolog pendidikan bertugas membantu metode pembelajaran apa yang cocok dalam situasi ruang kelas yang bervariasi. Bahkan psikolog olahraga juga menjadi salah satu lapangan kerja yang populer, lho.

Psikolog klinis yang menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) juga tidak kalah keren, lho Dear. Selain memberika terapi, psikolog klinis juga memberikan penyuluhan bagaimana menjaga kesehatan mental masing-masing dan menghilangkan stigma negatif tentang ODGJ. Siapapun tentu mau untuk sehat secara mental, karena itu psikolog klinis hadir untuk meningkatkan kesehatan mental siapapun, termasuk kamu dan teman-temanmu. Begitu pula dengan para ODGJ, mereka juga mau berinteraksi normal dengan cara yang berbeda, sehingga psikolog klinis berperan untuk memfasiliasi mereka agar bisa berfungsi di lapisan sosial masyarakat. Jangan jauhi ODGJ, ya Dear!

7. “Rasanya aku depresi, deh. Gamau nyembuhin aku?”

Waduh, mendengar kamu yang tidak mempelajari psikologi tiba-tiba bilang seperti ini mungkin mereka langsung kaget. Pasalnya mereka sendiri perlu berjuang menghafalkan gejala-gejala dan syarat diagnosis suatu gangguan, lho. Banyak orang mudah mendiagnosa diri sendiri akibat situs-situs psikologi populer kerap menuliskan gejalanya kurang spesifik. Tidak jarang, gangguan jiwa tersebut bahkan menjadi gimmick atau ciri khas kekinian seperti ‘I’m 20 and depressed’ atau ‘I don’t like you because I have social anxiety’yang ditulis sebagai deskripsi diri mereka. Padahal belum tentu secara klinis mereka telah didiagnosis demikian.

Sebelum meminta bantuan temanmu yang masih berkuliah, kamu perlu memahami bahwa gangguan tersebut hanya bisa didiagnosa oleh seorang psikolog klinis setelah melakukan serangkaian tes tertentu. Selain itu mengobati gangguan jiwa bukanlah ranah mahasiswa psikologi karena harus mendapatkan izin praktik terlebih dahulu. Jika kamu merasakan gejala-gejala gangguan jiwa, cobalah meminta dia untuk mengajamu ke psikolog kenalannya.

8. “Kasih tips dan trik psikotes dong! Eh kalau boleh try out sekalian ya…”

Ketika kamu mencari kerja, mungkin kamu akan segera mencari seorang mahasiswa psikologi dan meminta tips agar lulus psikotes perusahaan yang kamu incar. Karena tidak ada lembaga bimbingan belajar yang memberikan try out psikotes masuk perusahaan, kamu pun berharap dia akan memberikan trik jitu yang telah dipelajarinya.

Nyatanya, psikotes itu tidak perlu dipelajari, kok. Psikotes adalah alat untuk mengukur sejauh mana kemampuan testee (orang yang mengerjakan tes) dalam bidang-bidang tertentu. Hasil psikotes dapat menjadi pertimbangan posisi apa yang tepat untuk pelamar pekerjaan, bukan membandingkannya satu sama lain apalagi diurutkan.

Setiap perusahaan memiliki standar dalam menentukan jenis pelamar yang akan diterima berdasarkan hasil tesnya, sehingga yang perlu kamu lakukan adalah mempersiapkan diri agar tetap fit dan memberikan yang terbaik saat pelaksanaan tes. Jadi daripada meminta kisi-kisi dari mahasiswa psikologi, lebih baik kamu tidak menyerah dalam mengikuti berbagai seleksi masuk pekerjaan, ya Dear.

9. “Kamu kok nggak perhatian sih! Kamu kan anak psikologi!”

Waduh sabar, ya Dear. Bukan berarti mereka tidak paham / perhatian, tetapi mahasiswa psikologi cenderung mengesampingkan penilaian subjektif mereka terhadap suatu peristiwa. Selain itu mereka terbiasa berempati – merasakan apa yang kamu alami dan membantumu – tanpa kehebohan emosional yang mendalam. Mereka peka kok Dear, hanya saja mereka memilih untuk mendengarkan ceritamu sembari memahami isinya daripada mengomentari. Tentu kamu tidak mau dong ketika kamu pergi ke psikolog dan mereka justru bercerita panjang lebar karena memiliki pengalaman yang sama denganmu.

10. “Eh coba deh, baca garis tanganku.”
no reactions bye goodbye window via giphy.com
no reactions bye goodbye window via giphy.com

Dan kamu akan mendapatkan kekecewaan karena membaca garis tangan tidak terdapat dalam pendidikan formal psikologi manapun. Membaca garis tangan atau palmistry disebut dengan parapsikologi yang tergolong pseudo-sains. Pseudo-sains adalah ilmu yang dianggap saintifik namun sebenarnya sama sekali tidak memenuhi kaidah ilmu. Hasil dari pseudo-sains tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak bisa dijelaskan melalui ilmu psikologi – yang tentu saja adalah sebuah sains. Jadi jangan harap mahasiswa psikologi belajar ilmu gaib, ya Dear!

 

Nah, sekarang sudah tahu kan apa saja pemahaman yang kurang tepat tentang kuliah psikologi. Pada dasarnya semua ilmu memiliki kelebihan dan kekurangan serta susah dan mudahnya untuk dipelajari. Hanya saja publikasi yang salah dan tidak reliabel menjadikan informasi tentang ilmu psikologi simpang siur di masyarakat. Yang terpenting apapun ilmu yang dipelajari, tetap semangat untuk berbakti pada negeri, ya Dear.

By : Adismara Putri, Mahasiswi Psikologi Unair 2014

Referensi:

  1. Mousseau, M. C. (2003). Parapsychology: Science or pseudo-science. Journal of Scientific Exploration17(2), 271-282.
  2. National Council on Measurement in Education. Glossary of Important Assessment and Measurement Terms. Diakses melalui http://www.ncme.org/ncme/NCME/
  3. Psychometric Society. What is Psychometrics? Diakses melalui https://www.psychometricsociety.org/content/what-psychometrics
  4. Robert Wood Johnson Foundation: Qualitative Research  Guidelines Project. Observation. Diakses melalui http://www.qualres.org/HomeObse-3594.html