Hari Kesehatan Mental Dunia: Sudahkah Kita Sehat Mental Hari Ini?

Jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari ketika ponsel berdengung. Sembari mengusir kantuk, saya membaca sebuah pesan dari Bunga (bukan nama sebenarnya). Sebuah satu kalimat singkat yang menusuk dan membangkitkan ketakutan yang primal: “Tolong aku, aku ingin mati.”

Tidak lupa dengan potret lengannya yang dipenuhi luka sayatan, sesuatu yang kita kenal dengan self-harm.

Mengesampingkan kesehatan mental adalah sebuah bahaya laten

Diambil dari Unsplash

Setelah 5 pesan selanjutnya (dan usaha untuk menenangkan), saya mengetahui Bunga adalah mahasiswi semester 5 dan pekerja paruh waktu di sebuah startup. Memiliki banyak teman serta uang saku berlebih tidak semerta menghindarkan Bunga dari depresi. Beban kerja berlebih serta penolakan orangtua terhadap pilihan jurusan mendorong Bunga menangis setiap malam. Bunga memilih langkah berani untuk menceritakan permasalahan kepada teman-temannya, namun naas semua hanya dibalas “Kamu kurang bersyukur, jangan mengeluh, dong.”

Merasa tidak asing? Anda tidak sendirian; dari 14 juta penderita gangguan kecemasan, depresi, dan trauma, sangat sedikit yang menyadari bahwa mereka mengalami gangguan mental. Hal ini jelas menunjukkan kondisi Indonesia yang darurat kesadaran kesehatan mental. Ungkapan seperti “Kamu kurang iman” atau “Kamu melebih-lebihkan masalah” seolah menegaskan bahwa gangguan mental adalah sesuatu yang tabu. Data menunjukkan bahwa hanya 10% yang mencari bantuan ke psikolog. Sisanya? Kyai dan dukun menjadi pilihan alternatif.

Posisi millennial dalam tren kesehatan mental masa kini

Diambil dari Unsplash

“Tren bunuh diri pada remaja kian meningkat. Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan dalam menghadapi masalah.” Hal tersebut diungkap oleh Ilham Nur Alfian, M.Psi, Psikolog, ketua Himpunan Psikologi Jawa Timur saat berdiskusi dengan Riliv. Ibarat pohon, para pemuda belum memiliki akar yang kuat sehingga mudah terseret oleh masalah yang ada. Kurangnya dukungan menyebabkan pengambilan keputusan ekstrim dalam menyelesaikan sesuatu, seperti bunuh diri.

Tentang generasi millennial, Ilham berpendapat bahwa mudahnya akses informasi mengenai kesehatan mental membentuk kesadaran psikologis yang lebih baik. “Namun dalam prakteknya, informasi yang diterima kerap kali menawarkan solusi yang instan. Hal ini yang perlu diwaspadai oleh para millennial.” tambahnya. Kemudahan koneksi dengan orang baru, tidak diimbangi dengan kewaspadaan bahwa relasi tersebut belum tentu bersifat positif. Hal ini yang mendorong pemuda terlibat dalam masalah seperti cyberbullying. Tipu daya solusi instan juga menghalangi para pemuda menyelesaikan masalah secara perlahan sehingga kegagalan kecil pun berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka.

Data konseling menunjukkan banyaknya muda-mudi menuju layanan kesehatan mental. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan dilematis: apakah memang generasi millennial semakin sadar kesehatan mental, ataukah memang justru semakin banyak yang bermasalah?

Curahan hati psikolog dalam isu kesehatan mental

Diambil dari Unsplash

Bukan rahasia lagi bahwa stigma “Orang gila” menghambat masyarakat mengakses layanan kesehatan mental. Padahal kebutuhan kesehatan mental merupakan sesuatu yang harus diakses bila dibutuhkan. Hal ini adalah tantangan bagi kesejahteraan psikolog yang menyajikan pelayanan berbasis permintaan. “Bila kesadaran untuk konsultasi psikologis belum berkembang di suatu masyarakat, tentu akan berdampak pada profesi psikolog.” Ilham menjelaskan. “Psikolog siap menangani masalah klien, namun akan menjadi persoalan bila tidak ada klien yang mengeluh ke psikolog itu sendiri.” tambahnya.

Namun memaksakan keyakinan bahwa ‘Oh kamu mengalami sebuah masalah’ juga berlawanan secara etis dan keliru. Hal ini membutuhkan kehati-hatian ekstra sebagai psikolog.

Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai profesi psikologi juga menimbulkan tantangan profesionalitas. Masyarakat hanya memahami bahwa mereka membutuhkan bantuan dan perlu ditangani segera. Pada kenyataannya, ada etika prosedural berupa batasan masalah yang ditangani oleh psikolog bersangkutan. Kompetensi yang dikuasai menjadi pertimbangan apakah klien perlu ditangani atau dirujuk ke rekan sejawat. “Tak jarang sarjana psikologi yang belum berhak menangani klien pun diminta menangani intervensi. Permasalahan klasik ini yang masih harus dituntaskan hingga sekarang.” ungkap Bapak Ilham.

Bagaimana dengan langkah nyata psikolog dalam mengedukasi masyarakat? Selebrasi kesehatan mental seperti Millennial Wellness Day merupakan upaya Himpunan Psikologi Jawa Timur menunjukkan kepedulian terhadap problematika masyarakat. Penyuluhan kesehatan mental seperti pasca pengeboman Surabaya menunjukkan kesigapan dalam melayani kebutuhan masyarakat. Di Surabaya, psikolog sudah terjangkau di tingkat Puskesmas untuk menutup jurang antara masyarakat dengan akses kesehatan mental.

Kepada para “Bunga” – kabarmu kini dan nanti …

Diambil dari Unsplash

Mencari bantuan kesehatan mental memang bukan perkara mudah. Namun menemukan dukungan sosial yang tepat juga krusial bagi pencari bantuan. “Pastikan bahwa dukungan sosial yang mereka miliki tidak menambah permasalahan lain.” saran Bapak Ilham. “Dukungan sosial berkontribusi pada pengambilan keputusan agar tidak tergesa-gesa.”

Di sisi lain, resiliensi atau kemampuan untuk bangkit merupakan faktor penting yang harus dimiliki setiap orang. Sekecil apapun permasalahan, bila tidak dibekali resiliensi yang kuat, maka seseorang tidak dapat bangkit dan pilihan bunuh diri menjadi mungkin untuk diambil. Keyakinan bahwa akan selalu ada jalan keluar perlu ditanamkan sejak dini.

Permasalahan muncul bukan hanya karena situasi, namun bagaimana seseorang menghadapinya.

Keluarga menjadi salah satu faktor protektif terpenting yang dapat menghambat gangguan mental pada pemuda. “Kesannya, pemuda mulai menjauh karena teknologi. Padahal riset dan pengalaman menunjukkan bahwa keluarga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan mental. Harapannya, pemuda millennial mulai terlibat dalam aktivitas keluarga dan membentuk kepercayaan terhadap fungsi keluarga masing-masing.” ujar Ilham.

Mungkin Anda adalah “Bunga” dengan atau tanpa Anda sadari. Mungkin saudara atau tetangga Anda juga. Bulan Kesehatan Mental akan segera usai, namun Anda tak perlu menunggu lebih lama lagi jadilah yang pertama dalam mencari bantuan kesehatan mental.

Kesempatan terbaik untuk mengunjungi psikolog adalah saat kamu pertama merasakan masalah. Kesempatan terbaik selanjutnya? Sekarang.

“Selamat Hari Kesehatan Mental, Young People!

Referensi

  • https://www.merdeka.com/peristiwa/pekerja-media-dan-industri-kreatif-rawan-terkena-depresi.html
  • https://indonesiana.tempo.co/read/114087/2017/07/28/indahmustikasari94/fenomena-bunuh-diri-pentingnya-kesadaran-kesehatan-mental
  • https://gaya.tempo.co/read/1054737/kesehatan-mental-kapan-harus-diwaspadai-tilik-gejalanya/full&Paging=Otomatis
  • https://www.jpnn.com/news/data-kemenkes-14-juta-orang-di-indonesia-gangguan-jiwa?page=2
  • https://ugm.ac.id/id/berita/9715-minim.psikolog.ribuan.penderita.gangguan.jiwa.belum.tertangani
  • Kertas Posisi SINDIKASI: Kerja Keras Menukar Waras (Milik Pribadi)

Marine. Seorang introvert yang hobi mengembara di bumi maupun imajinasinya. Bisa diikuti di http://ketukansunyi.blogspot.com


Also published on Medium.

Share

Recent Posts

4 Novel Patah Hati yang Dapat Memotivasi Kamu untuk Bangkit Kembali

Kamu sedang mengalami patah hati akibat putus cinta dan merasa sulit sekali untuk move on? Nah, untuk membantumu melupakan mantan,…

4 hours ago

Waspada! 11 Tanda Bahwa Kamu Memiliki Gangguan OCD

OCD adalah gangguan psikologis yang sering disalah artikan sebagai orang yang sangat menyukai keteraturan atau sangat menyukai kebersihan. Namun kenyataannya…

21 hours ago

Merasa Stres Tak kunjung Usai? Pahami 4 Cara Menghilangkan Stres Berkepanjangan!

Pasti banyak dari kita yang sering merasa stres dengan berbagai macam alasan, baik karena percintaan, karir, atau permasalahan diri yang…

1 day ago

Jenis-Jenis Phobia yang Mungkin Kamu Alami, Ternyata Ada yang Takut Menikah!

Bagi beberapa orang, takut terhadap hal yang irasional atau phobia harus dihadapi sehari-hari. Hampir setiap orang memiliki ketakutan tertentu pada…

2 days ago

Ingin Awet dengan Pasangan? Ini Cara Menjaga Keharmonisan Hubungan yang Bisa Kamu Terapkan!

Pertengkaran dalam suatu hubungan bukanlah perkara yang mudah untuk diatasi. Banyak hal yang menyebabkan kedua pihak merasa paling benar. Terlebih,…

3 days ago

Mempertahankan Rumah Tangga Tanpa Cinta, Mungkinkah?

Sebagian besar pasangan suami-istri mungkin menganggap tidak lagi ada cinta berarti tidak mungkin bagi sebuah pernikahan untuk tetap berlanjut. Eits…

4 days ago