Ayah Bunda, Ini Dampak Perceraian bagi Anak Balita!

Ketika perceraian dirasa sebagai jalan terbaik yang dipilih oleh pasangan suami-istri, perpisahan tentu tak dapat dihindari. Perpisahan dalam hal ini bukan hanya untuk pasangan suami-istri itu sendiri, namun juga perpisahan bagi sang anak. Banyak orang berasumsi bahwa hanya anak yang sudah cukup dewasa yang akan mengalami dampak dari perceraian kedua orang tuanya. Namun ternyata, dampak perceraian bagi anak balita juga membawa pengaruh yang signifikan.

“Pasti gara-gara aku!”

Merasa dirinya adalah penyebab keributan dan perceraian orang tuanya (Photo by doron rosenblum on Unsplash)

Balita berada pada fase dimana ia cenderung berfokus pada dirinya sendiri (self-centered), sehingga ketika kedua orang tuanya ribut dan akhirnya memilih bercerai, ia akan menganggap bahwa semua adalah salahnya. Padahal ia bahkan belum paham apa itu perceraian. Biasanya rasa bersalah mereka akan ditandai dengan gampang menangis, suka mencari perhatian, dan gemar menghisap ibu jari.

Untuk menghindari kesalahpahaman dari keributan yang terjadi, orang tua bisa meluangkan waktu bersama anak, seperti bermain bersama atau membacakan sebuah cerita untuknya sembari menjelaskan rencana untuk berpisah. Melihat kedua orang tuanya membicarakan tentang perpisahan secara baik-baik, secara tidak langsung membuat sang anak meniru dengan memberi respon terhadap perceraian secara lebih bijaksana tanpa menyalahkan dirinya sendiri.

Baca juga: Pernikahan yang Tidak Bahagia: Tetap Tinggal atau Tinggalkan?

Takut dicampakkan oleh ibu dan ayahnya

“Aku takut jika ibu dan ayah tiba-tiba meninggalkanku.” (Photo by Tim Trad on Unsplash)

Interaksi dengan kedua orang tua adalah hal yang paling dibutuhkan oleh anak balita. Ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, ia menyadari bahwa kasih sayang diantara mereka berdua telah hilang. Ibu dan ayahnya yang dulu saling memberi kecupan dan memeluk hangat satu sama lain sekarang seolah lupa akan semua itu. Dengan begitu, anak akan merasa bahwa cinta dari mereka untuknya juga bisa sirna.

Rasa takut dicampakkan adalah salah satu dampak perceraian bagi anak balita yang ditandai dengan susah tidur atau takut tidur sendirian. Dalam hal ini, mengajak anak untuk tidur bersama akan mengurangi rasa takut dan kegelisahannya yang mungkin disebabkan oleh mimpi buruk. Jangan khawatir, ketika anak sudah merasa nyaman, ia akan kembali tidur sendiri di kamarnya.

Baca juga: Survivor Day: Karena Tak Hanya Satu Jiwa yang Tersakiti

Anak merasa tidak percaya diri

Kurangnya rasa percaya diri dalam menghadapi sesuatu (Photo by Paul Hanaoka on Unsplash)

Selain perpisahan, keadaan setelah perceraian pun berubah. Mulai dari pindah rumah, kondisi keuangan yang mungkin memburuk dan orang tua tunggal yang masih kebingungan untuk mengurus anak seorang diri. Berbagai stresor inilah yang sulit dihadapi oleh anak berusia balita. Ia merasa sebagai korban yang tidak berdaya karena sulit menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Hal ini dapat menimbulkan depresi, kecemasan dan mengurangi rasa percaya diri pada anak.

Sebagai solusi, orang tua bisa bertanya apa yang anak rasakan dari perubahan yang terjadi setelah perceraian. Jika anak menganggap dirinya tidak bisa mengatasi semuanya, meyakinkan bahwa ia memiliki mental yang cukup kuat untuk menghadapi semua perubahan tersebut bisa menjadi dorongan baginya. Mengajari cara berpikir yang positif dan cara mengendalikan emosi juga dapat mengembalikan rasa percaya diri sang anak.

Baca juga: 4 Cara Ini Bisa Membuat Orang Lain Memahami Gangguan Kejiwaan yang Sedang Kamu Alami!

Dampak perceraian bagi anak balita bisa menyebabkan perubahan perilaku

Suka membantah (Photo by Alexander Dummer on Unsplash)

Dampak perceraian bagi anak balita juga dapat dilihat dari perilaku yang berubah. Anak balita yang harus menyaksikan perceraian dari ayah dan ibunya akan cenderung lebih membangkang dan kurang mampu mengendalikan diri. Selain itu, ia mungkin sering terlibat konflik dengan teman bermainnya, contohnya tidak mau berbagi mainan atau bersikap kasar pada temannya.

Dalam mengatasi masalah tersebut, orang tua bisa mencoba untuk menerapkan peraturan pada sang anak. Bukan peraturan yang mengekang, melainkan peraturan yang dapat mendisiplinkan perilakunya. Contohnya, memberitahu setiap konsekuensi yang akan ia dapat dari melakukan suatu hal, sehingga anak bisa membedakan mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak.

Walaupun anak balita belum mengerti apapun tentang perceraian, tapi mereka bisa merasakan adanya perubahan, serta merespon perubahan tersebut dengan caranya sendiri. Terlebih, anak yang masih balita memiliki memori yang kuat, sehingga dampak perceraian mungkin akan berlanjut hingga mereka dewasa. Sebagai orang tua, senantiasa memberikan perhatian dan kasih sayang adalah cara paling bijaksana untuk menghadapi dampak perceraian bagi anak balita.

Disadur dari:

  1. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/age-un-innocence/201612/does-divorce-damage-infants-and-toddlers
  2. https://www.verywellfamily.com/psychological-effects-of-divorce-on-kids-4140170

Translated and modified by Isti Zharfiesyah Putri. Someone who is always craving for a scoop of vanilla ice cream.

Share

Recent Posts

Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus menurut Psikolog

Mengasuh anak berkebutuhan khusus tidak sama dengan mengasuh anak biasa. Ada banyak hal yang harus diperhatikan, dari melakukan deteksi dini…

3 hours ago

Merasa Kesal Diselingkuhi Pria Tercinta? Intip 6 Tips Berikut untuk Mengatasinya!

Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang kamu sayang. Entah itu teman, keluarga, apalagi pasangan.…

8 hours ago

(FEATURED) Bisakah Aku Bahagia Dengan Diri Sendiri ketika Semesta Tak lagi di sisi?

Berbicara tentang bahagia, akan sangat beragam definisinya bagi setiap manusia. Sebagian saat ini mungkin sedang merasa bahagia, tapi sebagian lain…

8 hours ago

Konsultasi Perceraian, Apa Ini Akhir Cerita Pernikahan Kami?

Waktu terbanyak untuk berpikir tentang kehidupan pribadi, biasanya kuhabiskan di mobil dalam perjalanan pulang dari kantor. Malam itu, pikiranku tertuju…

1 day ago

Pentingnya Kesehatan Mental di Awal Lima Tahun Pernikahan

Kulihat kalendar di depanku. Sehari menjelang ulang tahun pernikahanku dan Mezza. Rasanya waktu berlalu dengan cepat. Mungkin bagi orang lain…

1 day ago

Kata-Kata Gagal Move On untuk Unggahan Media Sosial-mu!

Ketika kamu sudah merelakannya, dia justru datang menawakan kembali harapan. Memaafkan, melupakan, hingga merelakan seketika seperti terlupakan begitu saja ketika…

2 days ago