Jangan Salah Kaprah, Kenali Beda Cinta dan Obsesi Menurut Psikolog!

Setelah selama ini mengaku sedang jatuh cinta, apakah kalian benar-benar sedang jatuh cinta, bukan terobsesi? Apa kalian tahu perbedaan cinta dan obsesi?

Berbicara tentang cinta rasanya tidak ada habisnya, ya, Dear. Ketika sedang kasmaran, kita seolah tidak bisa menghilangkan dia dari pikiran. Tapi, ketika sedang patah hati, rasa sakit kadang membuat kita sedih sejadi-jadinya.

Menurut penelitian, obsesi selalu berujung pada hal yang negatif, lho. Dalam hubungan asmara, obsesi tentu bukan sesuatu yang layak untuk dipertahankan.

Nah, agar kita tidak salah kaprah, yuk, kenali apa yang berbeda dari cinta dan obsesi menurut psikolog!

Mencintai itu saling mendukung, obsesi itu mengekang

Cinta memberimu kebebasan ketika obsesi membuatmu ingin lepas (Photo by Parker Whitson on Unsplash)

Menjalani hubungan bukan berarti harus sering bertemu dan harus selalu sama.

Walaupun terkadang beberapa pasangan bertemu karena kesamaan mereka, tidak jarang pula keduanya justru kontras namun tetap saling memiliki.

Saling mendukung pilihan-pilihan kita adalah bentuk dari rasa cinta.

Sementara melarang, membatasi, atau mengekang yang timbul dari asumsi sepihaknya untukmu adalah wujud dari obsesi, Dear.

Saling menghormati privasi, bukan terlalu memasuki batasan pribadi

Mengapa harus melewati batasan pribadi bila dasar dari sebuah hubungan adalah rasa saling mengerti? (Photo by Eric Lucatero on Unsplash)

Ketika menjalin hubungan, khususnya untuk yang masih berpacaran, menjaga privasi masing-masing tentu perlu.

Bukan karena tidak percaya untuk saling berbagi, tapi tentang perlunya ruang untuk diri sendiri.

Saat kita terlalu masuk dalam privasi pasangan, apalagi sampai membuatnya merasa tidak nyaman, hal itu bisa disebut sebagai terobsesi, Dear.

Apabila kamu curiga terhadap pasangan, kamu bisa coba 6 cara untuk mengatasinya sebelum dia merasa terganggu!

Berkorban atas nama cinta itu ketika keduanya saling menyetujui, bukan sepihak

Tidak ada namanya, “Aku berkorban sendirian demi cinta!” (Photo by Christian Hume on Unsplash)

Lalu, apakah berkorban termasuk dalam cinta dan obsesi atau hanya salah satunya?

Apabila pengorbanan itu disepakati oleh kedua belah pihak, artinya kalian saling mencintai.

Tapi, ketika hanya satu pihak yang berkorban, bisa jadi termasuk sebagai obsesi. Karena saling mencintai berarti saling memberi, Dear.

Cinta dan obsesi juga bisa terjadi pada kalian yang belum menjalin hubungan asmara

Cinta membuatmu merelakan, obsesi mendorongmu untuk menolak kenyataan (Photo by Bart LaRue on Unsplash)

Saat kita menyukai seseorang dan selalu berusaha menerima apakah dia memiliki perasaan yang sama atau tidak, itu merupakan cinta.

Tapi, apabila terlalu berharap harus menjadi seseorang yang ada di sisinya, itu termasuk terobsesi!

Keinginan untuk menjadi seseorang yang ada di sisinya mungkin bagus. Tapi, ketika kita sudah memilikinya, rasa itu justru acapkali hilang karena kita terobsesi dengannya, bukan mencintainya.

Tanyakan sekali lagi, apakah selama ini kalian saling mencintai atau terobsesi?

Yakinkan dirimu untuk membedakan cinta dan obsesi (Photo by rawpixel on Unsplash)

Tidak bisa dipungkiri bahwa menjalin hubungan dengan seseorang mungkin akan mengarah pada komitmen atas hubungan yang tengah dijalani.

Tapi, apabila tidak ada kejelasan dan begitu-begitu saja. Begitu pula dengan cinta yang dijalani secara berlebihan, tentu banyak membawa pengaruh buruk, Dear.

Antara cinta dan obsesi, coba tanyakan pada diri sekali lagi, apakah hubungan kalian selama ini adalah hubungan yang sehat?

Hati-hati terjebak dalam hubungan tidak sehat, Dear!

Mencintai itu harus saling memberi, Dear. Jangan sampai kalian tidak sepenuh hati dalam menjalin hubungan hingga berujung merugikan kedua belah pihak.

Apabila obsesi berujung membuat pacar menjadi kasar, segera ketahui cara menghindari kekerasan fisik dalam pacaran, Dear!

Mulai sekarang, cobalah untuk membedakan cinta dan obsesi. Keduanya adalah hal yang berbeda, pengaruhnya pun sangat signifikan dalam menjalin sebuah hubungan.

Semoga kamu mendapat pasangan yang terbaik, ya!

Referensi:

  1. https://psychology.binus.ac.id/2017/03/16/8368/
  2. https://www.bustle.com/p/how-to-tell-the-difference-between-love-obsession-13000434
  3. https://pairedlife.com/problems/Is-It-Love-or-Obsession

Ditulis oleh Maulfa Putri, yang juga mensemogakan kalian mendapatkan pasangan terbaik.

Share

Recent Posts

Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus menurut Psikolog

Mengasuh anak berkebutuhan khusus tidak sama dengan mengasuh anak biasa. Ada banyak hal yang harus diperhatikan, dari melakukan deteksi dini…

3 hours ago

Merasa Kesal Diselingkuhi Pria Tercinta? Intip 6 Tips Berikut untuk Mengatasinya!

Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang kamu sayang. Entah itu teman, keluarga, apalagi pasangan.…

8 hours ago

(FEATURED) Bisakah Aku Bahagia Dengan Diri Sendiri ketika Semesta Tak lagi di sisi?

Berbicara tentang bahagia, akan sangat beragam definisinya bagi setiap manusia. Sebagian saat ini mungkin sedang merasa bahagia, tapi sebagian lain…

8 hours ago

Konsultasi Perceraian, Apa Ini Akhir Cerita Pernikahan Kami?

Waktu terbanyak untuk berpikir tentang kehidupan pribadi, biasanya kuhabiskan di mobil dalam perjalanan pulang dari kantor. Malam itu, pikiranku tertuju…

1 day ago

Pentingnya Kesehatan Mental di Awal Lima Tahun Pernikahan

Kulihat kalendar di depanku. Sehari menjelang ulang tahun pernikahanku dan Mezza. Rasanya waktu berlalu dengan cepat. Mungkin bagi orang lain…

1 day ago

Kata-Kata Gagal Move On untuk Unggahan Media Sosial-mu!

Ketika kamu sudah merelakannya, dia justru datang menawakan kembali harapan. Memaafkan, melupakan, hingga merelakan seketika seperti terlupakan begitu saja ketika…

2 days ago