Penting! 6 Cara Mengatasi Anak yang Broken Home Menurut Psikoterapis

Menghadapi perceraian memang tidak mudah, terlebih bagi anak-anak. Tentu bukan menjadi keinginan mereka ketika harus melihat kedua orangtuanya berpisah. Namun, jika pada akhirnya bercerai adalah jalan yang tepat untuk dilakukan, maka sebagai orang tua sebaiknya kalian memahami cara mengatasi anak yang broken home menurut psikoterapis.

Apa saja, sih? Yuk, disimak baik-baik!

1. Kejujuran adalah kunci utama dari cara mengatasi anak yang broken home

Berterus terang agar anak tidak merasa dibohongi (Photo by Jonathan Daniels on Unsplash)

Dear, kalian tidak bisa selamanya menyembunyikan permasalahan rumah tangga pada anak. Sadar atau tidak, anak-anak biasanya sangat peka dengan keadaan keluarganya, lo.

Mereka memiliki naluri untuk mengetahui sesuatu yang sedang terjadi di antara ayah dan ibunya meskipun tidak ada yang mengatakannya secara langsung. Dalam hal ini, solusinya adalah dengan bersikap jujur tentang kondisi rumah tangga kalian.

2. Beri penjelasan yang sesuai dengan usia anak

Tak perlu terburu-buru, jelaskan satu demi satu (Photo by Caroline Hernandez on Unsplash)

Menjelaskan pada anak terkait masalah rumah tangga memang agak sulit bagi orangtua. Namun, kalian bisa mempertimbangkan usia anak untuk memberi penjelasan yang bisa dipahami.

Sebagai contoh, kalian bisa mengatakan, “Ayah dan Ibu sudah tidak saling sayang lagi” kepada anak yang baru berusia 4 tahun. Kata-kata tersebut akan membantu anak agar terhindar dari efek buruk broken home.

3. Katakan, “Kamu bukan penyebab perceraian ayah dan ibu, nak.”

Beri pemahaman pada anak bahwa mereka bukan penyebab perceraian (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)

“Ayah sama Ibu pisah gara-gara aku, ya?”

“Ini salahku!”

Apakah kalian pernah membayangkan bagaimana perasaan anak saat mengetahui orang tuanya berpisah? Kebanyakan dari mereka mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian kedua orangtuanya.

Nah, cara mengatasi anak yang broken home dalam hal ini adalah selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa mereka bukan penyebab di balik perceraian ayah dan ibunya.

4. Mengekspresikan perasaan bisa menjadi salah satu cara mengatasi anak yang broken home

Mengekspresikan perasaannya supaya tidak ada yang terpendam (Photo by Kelly Sikkema on Unsplash)

Dear, setelah perceraian, reaksi yang ditunjukkan anak pastinya akan berbeda-beda. Ada yang sedih, marah, atau bahkan takut. Semua itu adalah hal yang wajar.

Lantas, tugas selanjutnya yang harus dilakukan orangtua adalah dengan menjadi pendengar yang baik dan membiarkan anak mengekspresikan perasaannya. Kalian bisa coba 4 tips berikut untuk menumbuhkan kesabaran pada anak.

Jangan lupa untuk selalu mendampingi dan memberi nasihat pada anak, ya!

5. Beri anak kebebasan untuk memilih

Memberi hak untuk memilih lebih baik dibanding memaksakan kehendak (Photo by Annie Spratt on Unsplash)

Saat orang tua memutuskan untuk berpisah, pastinya akan terjadi sebuah dilema besar pada anak. Cara yang baik untuk menangani anak setelah perceraian adalah dengan memberikan pilihan dan saran kepada anak.

Contoh sederhananya bisa dengan membicarakan kepada anak dengan siapa mereka ingin tinggal setelah perceraian.

6. Saling bahu-membahu untuk mempertahankan peran orangtua yang utuh dalam keluarga

Tidak pernah ada mantan anak dari sebuah perceraian (Photo by Brittany Simuangco on Unsplash)

Dear, pernikahan boleh berakhir, tapi tugas dan tanggung jawab orang tua kepada anak tetap harus berlanjut. Orang tua juga harus bisa menjadi teman yang baik untuk anak.

Di sini akan tercipta tantangan bagi orang tua untuk lebih bijak dan mengesampingkan masalah pribadi dengan mantan pasangan. Komunikasi yang tetap terjalin nantinya akan berdampak positif bagi anak meskipun kalian sudah tidak bersama lagi.

Cepat atau lambat, dampak dari sebuah perceraian tentu akan terjadi. Tidak ada salahnya bagi orang tua untuk melakukan pencegahan dan inisiatif kepada anak mereka agar tidak terjerumus dalam sisi gelap perceraian.

Semoga 6 cara mengatasi anak yang broken home dari ahli psikoterapis di atas bisa membantu, ya, Dear!

Referensi:

  1. https://www.dailyherald.com/article/20140126/entlife/701269991/
  2. https://www.thejournal.ie/readme/separation-children-2468664-Nov2015/
  3. https://www.deseretnews.com/article/865599962/Preventing-broken-marriages-from-breaking-kids.html

Tara Antya Sahasrakirana. We are all struggling for a better life.

Share

Recent Posts

Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus menurut Psikolog

Mengasuh anak berkebutuhan khusus tidak sama dengan mengasuh anak biasa. Ada banyak hal yang harus diperhatikan, dari melakukan deteksi dini…

2 hours ago

Merasa Kesal Diselingkuhi Pria Tercinta? Intip 6 Tips Berikut untuk Mengatasinya!

Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang yang kamu sayang. Entah itu teman, keluarga, apalagi pasangan.…

8 hours ago

(FEATURED) Bisakah Aku Bahagia Dengan Diri Sendiri ketika Semesta Tak lagi di sisi?

Berbicara tentang bahagia, akan sangat beragam definisinya bagi setiap manusia. Sebagian saat ini mungkin sedang merasa bahagia, tapi sebagian lain…

8 hours ago

Konsultasi Perceraian, Apa Ini Akhir Cerita Pernikahan Kami?

Waktu terbanyak untuk berpikir tentang kehidupan pribadi, biasanya kuhabiskan di mobil dalam perjalanan pulang dari kantor. Malam itu, pikiranku tertuju…

1 day ago

Pentingnya Kesehatan Mental di Awal Lima Tahun Pernikahan

Kulihat kalendar di depanku. Sehari menjelang ulang tahun pernikahanku dan Mezza. Rasanya waktu berlalu dengan cepat. Mungkin bagi orang lain…

1 day ago

Kata-Kata Gagal Move On untuk Unggahan Media Sosial-mu!

Ketika kamu sudah merelakannya, dia justru datang menawakan kembali harapan. Memaafkan, melupakan, hingga merelakan seketika seperti terlupakan begitu saja ketika…

2 days ago