Ini Lho Akibat Broken Home pada Anak

Istilah “broken home”  sering dipakai untuk menggambarkan kondisi sebuah keluarga yang orangtuanya bercerai. Kondisi broken home cukup pelik dan berakibat terhadap keluarga. Akibat broken home dapat terasa dalam berbagai hal.

Yap, perceraian dapat menjadi suatu ujian bagi ketahanan keluarga. Tak hanya terasa pada suami-istri, akibat broken home juga dirasakan oleh anak pada keluarga tersebut. Lantas, apa saja akibat broken home pada anak?

Tidak semudah dulu untuk dapat percaya

Building trust is like building a castle brick by brick, it can’t happen in a night (Source: Pixabay from Pexels)

Pada beberapa kasus perceraian, orangtua malah menutup-nutupi perceraian tersebut, bahkan tidak jujur. Orangtua sejatinya adalah figur yang paling memberikan rasa aman.

Kebohongan orangtua dapat menghancurkan tembok kepercayaan. Jika dari figur sumber rasa aman (re: orangtua) sulit untuk dipercaya, apalagi orang lain yang perannya tidak lebih kuat dari orangtua. Oleh karena itu, anak broken home dapat jadi sulit percaya.

Akibat broken home, ada ragu yang timbul ketika menjalin hubungan romantis

It doesn’t stop at finding love, but lasts longer at keeping it (Source: Chandra Daru Nusastiawan from Unsplash)

Bagaimana kita menjalin hubungan romantis dipelajari dari berbagai pengalaman hidup. Salah satunya, dengan berkaca kepada hubungan kedua orangtua. Mempunyai pengalaman orangtua bercerai dapat menjadi risiko pada hubungan romantis yang akan dijalani anak.

Perceraian berarti tidak ada role model hubungan yang langgeng, sehingga anak tidak memiliki cukup pengetahuan tentangnya. Eits, tapi tidak semua anak broken home tidak dapat menjalin hubungan romantis yang kuat, lho. Beberapa anak malah mempelajari kesalahan pada perceraian orangtuanya, sehingga ia dapat menjalin hubungan yang kuat.

Menjadi pribadi yang lebih mandiri dari sebelumnya

Facing battle everyday makes you a fighter (Source: Kate Williams from Unsplash)

Perceraian dapat membawa banyak perubahan kepada keluarga. Seluruh anggota keluarga, termasuk anak harus siap beradaptasi dengan situasi yang ada.

Saat bercerai, fokus orangtua akan terbagi untuk menyelesaikan masalah pribadinya selain merawat anak. Mau tak mau, anak akan belajar untuk merawat dirinya sendiri dan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Bahkan, beberapa anak dapat dengan luar biasa membantu orangtuanya, lho.

Menyimpan luka akan trauma terhadap konflik keluarga

The burden follows you everywhere you go (Source: Chuttersnap from Unsplash)

Menerima fakta bahwa orangtua sudah bercerai pasti menyedihkan dan berat. Suatu studi dari 400 remaja di Inggris mengungkapkan, 29% laki-laki serta 39% perempuan yang orangtuanya bercerai memiliki tingkat posttraumatic stress (stress pasca trauma) yang tinggi.

Mendapatkan rasa aman dan nyaman adalah hak anak. Hal tersebut krusial bagi perkembangan psikologisnya. Hendaknya orangtua saling bekerja sama untuk menjamin hal tersebut, karena tidak lagi menjadi suami-istri bukan berarti berhenti menjalankan tugas sebagai orangtua.

Bertambah tegar dari waktu ke waktu

You were hurted once, but now you are stronger than ever (Source: Bady Qb from Unsplash)

Perceraian sendiri bagi orangtua, yang terlibat secara langsung, dipandang sulit. Bisa dibayangkan tentunya, lebih sulit lagi memahami perceraian dari sisi anak.

Ketika orangtua bercerai, anak dituntut untuk belajar menerima kondisi yang ada. Bahkan, beberapa anak membantu orangtuanya untuk dapat kuat melewati perceraian. Menjadi lebih dewasa dan tegar adalah salah satu hal yang timbul dari perceraian. Hal itupun sekaligus menunjukkan bahwa akibat broken home tak selamanya negatif.

Broken home bukan berarti kutukan. Setiap keluarga selalu memiliki harapan untuk bahagia, bagaimanapun kondisi yang ada.

Masing-masing anggota harus saling bahu-membahu mengatasi permasalahan yang timbul, karena semua anggota merasakannya. Luka yang ada, tentu akan cepat sembuh jika diobati bersama.

Referensi:

  1. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/what-doesnt-kill-us/201302/trauma-divorce-and-its-effects-children
  2. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/heart-the-matter/201408/are-children-divorce-doomed-fail
  3. https://psychcentral.com/lib/tips-for-helping-children-handle-divorce/
  4. https://psychcentral.com/lib/helping-kids-cope-with-your-amicable-divorce/
  5. https://psychcentral.com/lib/how-parents-can-best-help-their-kids-during-a-bitter-divorce/

Annisa’i S. N Amalina. In another life, she may be a lazy cat. But in this kind of life, she is just a girl, currently studying psychology and loves to watch cheesy romantic-comedy movies.

Share

Recent Posts

HEAR, HEAR: Job Vacancy and Internship Program on RILIV!

Karena Anda, Riliv Ada. Bergabunglah dengan Kami. Didorong semangat berkarya millennial, kami berambisi untuk menyajikan layanan psikologi online terbaik yang…

4 days ago

6 Cara Mengatasi Takut Ketinggian, Salah Satunya Melalui Virtual Reality!

Acrophobia atau takut terhadap ketinggian sangat umum terjadi, yaitu sekitar 5% dari populasi. Acrophobia cenderung berbahaya karena serangan panik di…

6 days ago

Apakah Mood Swings yang Kamu Alami Merupakan Ciri-Ciri Bipolar? Ini Penjelasannya!

Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan suasana hati atau mood swings, yaitu dari fase mania (sangat bahagia) ke fase depresi (sangat…

7 days ago

Cara Mengatasi Depresi Berat yang Dilakukan Pemuda Ini Akan Membuatmu Kagum!

Aku Harry, seorang Event and Community Officer. Walaupun tanganku gemetar dan dadaku terasa berat ketika menulis ini, aku berusaha untuk tetap…

1 week ago

Hari Relawan Internasional: Rela Jadi Relawan, Inilah Alasannya!

Siapa yang setuju kalau para relawan itu sangat keren? Saking kerennya, PBB sampai menetapkan tanggal 5 Desember sebagai Hari Relawan…

1 week ago

Yuk, Kenali Akibat Stres pada Wanita!

Dear, sadar atau tidak saat ini banyak sekali hal yang bisa membuatmu stres, seperti terjebak macet selama berjam-jam, tugas kuliah…

1 week ago