Jarang Diperhatikan! Ini 4 Akibat Broken Home Pada Anak

Broken home merupakan kondisi dimana keluarga mengalami perpecahan. Dan salah satu penyebabnya adalah perceraian. Walaupun perceraian dapat terjadi di antara pasangan suami-istri, bukan berarti akibat broken home pada anak bisa diabaikan begitu saja.

Karena buah hati mereka terkadang justru menjadi orang pertama yang merasakannya.

Tidak peduli berapa usia mereka, balita maupun beranjak dewasa, perpisahan kedua orangtuanya tentu memberi pengaruh, bahkan bisa merusak masa depan. Nah, pahami 4 dampak broken home pada anak yang jarang orang tahu, yuk!

1. Kondisi emosional yang terselubung merupakan salah satu akibat broken home pada anak

Kesedihan yang dikubur dalam-dalam akan berujung pada hal negatif (Photo by ChuXue Lu(@luchuxue1997 ) on Unsplash)

Sebagian besar orang mungkin bersikap acuh tak acuh dengan kondisi psikologis anak-anak yang mengalami broken home.

Padahal, sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak broken home, khususnya yang berusia remaja, memiliki kecenderungan untuk depresi.

Mereka menunjukkan sikap yang negatif pada sekitarnya. Terlebih, mereka cenderung menyimpan kesedihan yang akan berujung pada kenakalan remaja.

Oleh karena itu, sangat penting untuk membantu mereka meluapkan kesedihan dengan mengajak untuk lebih terbuka.

Kamu bisa lihat artikel ini untuk tahu lebih lanjut terkait sleeper effect, yaitu efek broken home pada anak perempuan.

2. Performa akademik yang cenderung kurang baik

Perceraian berdampak pada turunnya nilai anak di sekolah (Photo by Lacie Slezak on Unsplash)

Ternyata, akibat broken home pada anak juga menyerang bidang akademik, lho!

Ciri-ciri anak yang tumbuh dari keluarga broken home memiliki perkembangan dalam bidang akademik yang kurang baik dibanding yang lain.

Stres yang mereka rasakan menjadi pemicu utama dalam penurunan nilai.

Di sisi lain, perubahan gaya hidup yang terjadi juga mempengaruhi aspek akademik mereka.

Sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami kondisi ini dan justru menyalahkan sang anak, Dear!

3. Trauma yang membuat anak memiliki interaksi sosial yang terbatas

Trauma dan anggapan yang salah berujung pada terbatasnya interaksi (Photo by Michal Parzuchowski on Unsplash)

Lingkungan sekitar cenderung mengucilkan anak-anak yang mengalami broken home karena dianggap kurang baik.

Padahal, hal itu dilakukan untuk mencari perhatian.

Akibat broken home pada anak juga terjadi pada mereka yang sudah remaja, di mana mereka akan mengalami trauma terhadap hubungan dengan orang lain.

Mereka cenderung kehilangan kepercayaan untuk bisa memulai interaksi terlebih dahulu.

Jika dibiarkan terus-menerus, anak-anak broken home akan semakin menderita, Dear.

4. Peran yang hilang menyebabkan hubungan keluarga tidak harmonis

Perpisahan yang seolah menghilangkan peran tertentu (Photo by Luke Pennystan on Unsplash)

Pengaruh perceraian mengubah peran yang ada dalam keluarga. Mau tidak mau, anak-anak broken home harus turut andil dalam menjalankan peran penting di keluarganya.

Misalnya, anak sulung akan menggantikan posisi salah satu dari orangtua untuk adik-adiknya yang masih butuh kasih sayang.

Hal ini akan membuat hubungan keluarga menjadi kurang harmonis karena ada peran yang hilang.

Membangun bahtera rumah tangga memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sejatinya, tidak ada pasangan yang ingin menikah lalu berpisah. Perpisahan tidak hanya menyakitkan, tapi juga mengorbankan kebahagiaan anak-anak.

Kamu juga perlu mengetahui cara mengatasi anak yang broken home. Dengan menjadi lebih peduli, penderitaan pada anak bisa diatasi! Tetap semangat, Dear!

Disadur dari :

  1. https://www.thenews.com.pk/magazine/you/76974-the-effect-of-a-broken-family
  2. http://www.allresearchjournal.com/archives/2017/vol3issue2/PartG/3-2-106-798.pdf
  3. https://studyhippo.com/essay-the-causes-and-effects-of-a-broken-family/

Translated and modified by Ralin Pramasuri Arta Meisa. Someone who attempts to enlighten people the most.

Tanda Terlalu Lama Tidur: Mudah Lupa Hingga Nambah Berat Badan!

Apa benar, tanda terlalu lama tidur adalah mudah lupa, bahkan berat badan bertambah? Berbaring di kasur, leyeh-leyeh, merupakan kegiatan yang…

10 hours ago

Hari Kesetaraan Sosial Dunia: Menghargai Perspektif Orang Lain!

Selamat Hari Kesetaraan Sosial Dunia, hari di mana semua orang memiliki status yang sama. Ada beberapa situasi untuk menggambarkan apa yang dimaksud kesetaraan, alias…

24 hours ago

7 Akibat Putusnya Perkawinan: Meningkatkan Kesehatan, lho!

Menjalin hubungan rumah tangga pasti memang tidak pernah lepas dari berbagai persoalan yang terkadang justru membawa kalian pada putusnya pernikahan.…

1 day ago

Overthinking? Tidak Bagus untuk Kesehatan Mentalmu!

Berfikir: satu kata yang selalu dilakukan setiap manusia. Tidak ada yang salah dengan berfikir. Itu hal yang bagus untuk dilakukan.…

2 days ago

(FEATURED) Pacar Tidak Kunjung Melamar, Apakah Putus Solusinya?

Bertahun-tahun menjalin hubungan, terkadang tidak sesuai harapan. Misalnya saja kamu ingin A, sedangkan si dia ingin B. Itu baru sekadar…

3 days ago

Jangan Salah Kaprah, Kenali Beda Cinta dan Obsesi Menurut Psikolog!

Setelah selama ini mengaku sedang jatuh cinta, apakah kalian benar-benar sedang jatuh cinta, bukan terobsesi? Apa kalian tahu perbedaan cinta…

5 days ago